"Kalau cuma dua polisi mah apa bedanya dengan pengamanan biasa, lebih banyak polisi di Jembatan Semanggi," kata Mahfud di Gedung DPR, Senayan, Rabu (28/9/2011).
Mahfud juga mempertanyakan soal prosedur yang dimiliki polisi saat menerima informasi. "Jadi dipertanyakan SOP-nya. Apa memang begitu SOP-nya? Istilah saya polisi yang ditempatkan di jalan raya yang tidak ada ancaman bomnya lebih banyak kok, dan lebih sigap," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan bahkan BIN sudah menyampaikan informasi per tanggal 21 September bahwa ada yang ingin dijadikan Solo sebagai Ambon kedua. Artinya, logikanya bahwa dari lima orang karena satu sudah menjadi pelaku di Ambon, mereka sudah menetapkan tempat operasinya. Itu kan logikanya seperti itu," katanya.
Ditambah lagi, kegiatan internasioal akan digelar di kota Solo. "Nah kenapa kemudian ini kejadian, kan mestinya polisi tanggap. Apalagi Solo memang daerah yang potensial dan kemudian di Solo akan ada event internasional, pertemuan parlemen se-Asia. Ya kan? Ini kan akan menarik perhatian banyak negara," kata Mahfudz.
Sebelumnya Kapolri mengakui telah menerima informasi dari BIN tentang rencana aksi bom di Solo. Polri pun telah menindaklanjuti laporan itu. Dari hasil investigasi internal yang dilakukan Polri, dua petugas telah ditempatkan di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo.
(ken/fay)










































