"Ini benar-benar lebih ke nasional separatis. Mereka ingin mendirikan negara Islam," kata pengamat teroris Mardigu Wowiek Prasetyo usai diskusi bertajuk 'Terorisme dan Potensi Konflik Sosial di Daerah' yang digelar di Gedung DPD, Senayan, Jakarta, Rabu (28/9/2011).
Menurut Mardigu, kejadian di Cirebon dan Solo menilik pada kesuksesan masa-masa di Ambon beberapa waktu lalu. Bom bunuh diri di dua tempat tersebut tidak ada hubungannya dengan zaman Dulmatin atau Umar Patek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi pikir-pikir, pasti ada aktor intelektual di luar. Nah ini saya belum tahu soal itu," nilainya.
Seperti diketahui bom bunuh diri terjadi di Masjid Ad Dzikra, Polresta Cirebon pada 15 April 2011. Satu orang tewas yakni pelaku bom bunuh diri itu sendiri bernama M Syarif.
Kini menyusul bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Kepunton, Solo, Jawa Tengah pada 26 Juni. Satu orang juga tewas yakni pelaku sendiri bernama Ahmad Yosepa Hayat alias Hayat alias Ahmad Urip alias Pino Damayanto.
(gus/fay)











































