"Kekuatan ekonomi dunia saat ini bergeser ke Asia. Dengan luas kawasan dan jumlah penduduk yang sangat besar, Asia akan menjadi pasar sangat potensial. Karena itu Asia harus mampu mengurai permasalahan yang ada akan tidak timbul masalah di kemudian hari," ujar Ketua DPR RI Marzuki Alie dalam pembukaan Asian Parliamentary Assembly (APA) di The Sunan Hotel, Solo, Rabu (28/9/2011).
Untuk mengurai persoalan itu, lanjutnya, negara-negara di Asia harus duduk bersama untuk menyamakan cara pandang demi memperkokoh hubungan dalam kesetaraan sebagai sesama negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalah tenaga kerja migran, kata dia, harus dibahas serius oleh setiap negara pengirim maupun penerima. Apalagi dalam beberapa waktu terakhir sering muncul masalah.
"Melindungi tenaga kerja migran itu penting, tetapi yang tak kalah penting juga adalah menyamakan pandangan dalam menangani masalah terkait tenaga kerja migran itu," lanjutnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen DPR RI, Hidayat Nur Wahid, yang juga hadir dalam acara tersebut. Hidayat mengatakan pertemuan di Solo ini akan melakukan pembahasan secara mendalam mengenai persoalan tenaga buruh migran agar tercipta kesepahaman dari semua negara anggota APA dalam menanganinya.
"Dalam pertemuan di Solo ini hadir perwakilan dari parlemen Filipina dan Hongkong. Dua negara memiliki pengalaman dan reputasi penting dalam pengelolaan tenaga kerja migran. Filipina sebagai negara pengirim terbaik dan Hongkong sebagai negara penerima terbaik. Kita akan mendengar langsung dari mereka tentang cara penanganan yang baik," ujar Hidayat.
Ketika ditanya tentang ketidakhadiran Malaysia dan Arab Saudi yang selama ini sering bermasalah dengan tenaga kerja migran asal Indonesia, Hidayat mengatakan kedua negara ini memang anggota APA. Namun keduanya tidak memberikan alasan yang jelas mengapa tidak hadir mengirimkan perwakilannya dalam konferensi di Solo kali ini.
(mbr/fay)











































