"Pada 2008 kita sudah bicara dengan pengguna (KRL Jabodetabek), mereka minta agar sarana ditambah. Sarana ada tapi prasarana tidak mencukupi, makanya listriknya mau ditambahi Dirjen Perkeretaapian. Kita punya itikad baik untuk menambah kehandalan kereta kita," tutur Corporate Secretary PT KAI Komuter Jabodetabek Makmur Syaheran kepada detikcom, Rabu (28/9/2011).
Kehandalan KRL komuter tak lepas dari kehandalan alat dan catu daya. Sekarang ini, lanjut dia, sudah ada listrik 86 MW. Jika 600 kereta yang dimiliki hendak dijalankan semua, maka dibutuhkan minimal 120 MW.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menuturkan, jumlah armada KRL saat ini adalah 418 unit. Namun dengan penambahan kereta sekitar 150 unit per tahun, maka hingga 2019 diperkirakan sudah tersedia 1.444 unit. Jumlah itu diperkirakan sudah sanggup mengangkut 1,2 juta penumpang per hari. Jumlah perjalanan per hari saat ini mencapai 467 perjalanan.
"Kalau listrik handal catu daya mudah, kita bisa tambah jumlah perjalanan kereta. Ini menambah potensi kenaikan jumlah penumpang. Kalau headway menjadi pendek maka itu konsekuensi," jelasnya.
Pihak PT KAI Komuter Jabodetabek mengklaim memiliki cadangan 4 rangkaian. Sehingga bila suatu saat ada yang mogok bisa dikirim kereta pengganti. "Jadi ini bisa jamin yang komuter. Penambahan rangkaian dilakukan kalau listrik tersedia. Kalau saat peak hour ditambahi ya maksimal sebegitu karena listrik dan rel yang ada," sambung Makmur.
Terkait jadwal perjalanan KRL yang akan terganggu mulai 19 Oktober hingga 29 November, menurut dia, pihaknya sudah melakukan sosialisasi. Hal ini dilakukan agar para pengguna KRL bisa melakukan antisipasi.
"Seperti yang telah dirilis, 29 perjalanan akan terganggu. Jadi asumsinya 29 per 176 perjalanan dikali 60 persen jumlah penumpang di Jabodetabek yang 400 ribu naik dari Bogor ke Jakarta. Itu yang tidak terangkut karena ada sepotong yang tidak dijalankan," lanjut Makmur.
Pengguna KRL dari Bogor ke Jakarta menempati 60 persen dari seluruh penumpang Jabodetabek. Pada saat peak hours, dengan asumsi gangguan perjalanan maka 150 persen penumpang yang biasa memadati KRL tidak bisa terangkut semua. Jadi solusinya, untuk sementara penumpang bisa pindah jam perjalanan menjadi lebih pagi atau lebih siang agar dapat terdistribusi.
"Sedang kita siapkan rilisnya perjalan ke mana saja (yang terganggu). Kita akan tempatkan sedemikian rupa supaya tidak banyak terjadi pembatalan," ucap Makmur.
Mulai 19 Oktober, Kemenhub melalui Ditjen Perkeretaapian akan membangun enam gardu listrik aliran atas (LAA) dan merehabilitasi tujuh gardu LAA lama di jaringan KA Jabodetabek. Penambahan daya dilakukan mulai 19 Oktober hingga 29 November sehingga akan sedikit mengganggu layanan KRL.
(vit/fay)










































