"Hasil visum sementara, tulang belakangnya patah. Kayaknya dipatahkan. Tulang rusuknya kanan kiri patah. Lehernya juga patah," ujar Kasat Reskrim Polres Kabupaten Bogor AKP Imron Ermawan saat dihubungi detikcom, Rabu (28/9/2011).
Imron mengatakan, diduga korban dibunuh 3-4 hari sebelum ditemukan. Korban sendiri ditemukan pada Senin (26/9) lalu. Korban dikubur secara tidak layak dengan jarak 80 cm di dalam tanah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya sudah mengerikanlah. Paling sidik jari dan gigi masih bisa diperiksa. DNA juga bisa tapi kita kan belum ada pembandingnya," katanya.
Hingga kini, lanjut Imron, belum ada pihak keluarga yang datang dan mengaku sebagai keluarga korban. Imron mengimbau jika ada keluarga yang merasa kehilangan anggota keluarganya dengan ciri-ciri yang hampir sama dengan korban, diharapkan bisa melapor ke Polres Kabupaten Bogor.
"Sampai sekarang belum ada yang datang. Kalau ada ke sini saja. Kita masih penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut," jelasnya.
Sebelumnya penemuan mayat ini berawal dari seorang warga bernama Ana yang curiga ada gundukan tanah yang ditanami pohon pisang. Karena merasa tidak pernah menanam pohon pisang di tempat itu, Ana lalu menggalinya.
Betapa kagetnya Ana ketika melihat sesosok tubuh muncul dari dalam tanah tersebut. Mayat tersebut ditemukan dengan kondisi mulutnya dililit lakban warna coklat sampai melingkari leher belakang sebanyak 16 kali dengan panjang lakban 9,72 meter.
Ana kemudian melaporkannya ke Ketua RW setempat. RW melanjutkan laporan ke hansip bernama Asep dan akhirnya melapor ke Polsek Jonggol. Mayat tersebut lalu dibawa ke RS Polri Kramat Jati.
Ciri-ciri korban yakni:
1. Tinggi badan sekitar 176 Cm dengan berat badan 90 Kg
2. Saat ditemukan, korban mengenakan celana pendek warna coklat dan celana dalam, tanpa baju atasan
3. Terdapat tahi lalat di leher belakang
4. Alat kelamin tidak disunat
5. Gigi bawah geraham ditambal
(gus/asy)










































