Dari informasi yang diperoleh detikcom dari beberapa sumber di kepolisian, penyebab bentrokan, muncul beragam versi. Mulai dari percekcokan karena kesalahpahaman hingga pesta miras.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar mengatakan, bentrokan dimulai ketika rumah milik warga berinisial B dirusak oleh sekelompok orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat perusakan itu, pintu-pintu rumah B hancur. Menurut Baharudin, di rumah B saat itu ada dua korban Yulian Watimori (42) dan Demianus Retraubun (38).
"Rumah itu seperti tempat nongkrong B dan kawan-kawan. Dua korban ini sebenarnya pendatang, yang baru datang ke situ," kata dia.
Polisi yang datang setelah bentrokan usai, ditemukan korban Yulian di dekat parit yang berjarak sekitar 40 meter dari rumah B. Yulian saat ditemukan sudah menjadi mayat.
"Dia salah satu korban yang perutnya luka, ditemukan tersender di dekat parit," kata dia.
Beberapa jam setelah penemuan korban Yulian, polisi kembali menemukan korban lain yakni Demianus. Demianus juga ditemukan telah tewas dengan kondisi yang mengenaskan.
"Yang satunya (Demianus) di depan, dekat sungai dekat tong sampah, kepala belakangnya kena parang, tiga jari putus dan pahanya luka," ujar dia.
Baharudin mengatakan, pihaknya masih menyelidiki bentrokan tersebut. Sementara polisi juga belum mengetahui apa tujuan kelompok penyerang datang ke lokasi.
"Kita belum tahu apa tujuan kelompok itu, yang punya rumah pun nggak ada di rumah itu," kata dia.
Sementara informasi yang diperoleh detikcom, bentrokan bermula ketika kelompok korban tengah pesta miras. Namun, Baharudin belum bisa memastikan informasi tersebut.
"Kita nggak tahu, tapi yang jelas ditemukan ada dua alat itu (bong)," kata Baharudin.
Bentrokan antargeng di Kampung Ambon terjadi pada Senin (26/9) dini hari. Dalam bentrokan itu, Yulian dan Demianus tewas, sementara dua lainnya mengalami luka-luka. Hingga kini, pelaku penganiayaan belum ditangkap.
(mei/nwk)











































