"Biasanya pagi, sebelum orang masuk, ditelpon pukul 05.30 WIB, disuruh datang duluan pukul 07.30 WIB. Biasanya PNS itu kan masuknya jam 08.00 WIB," kata Shanti Dewi, pengacara korban kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (26/9/2011) malam.
Shanti mengatakan, perintah atasannya itu kerap menimbulkan trauma psikologis terhadap kliennya. AIS acap kali mengecek pegawai lain untuk memastikan bahwa bukan dia saja yang datang pagi.
"Sesudah kejadian itu, dia akan ngecek ke seksi sespri apa mereka juga disuruh datang pagi apa nggak," kata dia.
Sementara itu, Shanti menjelaskan, AIS menjalani pemeriksaan di Subdit Renakta (Remaja, Anak dan Wanita) Polda Metro Jaya. Pemeriksaan dilakukan dari pukul 13.30 hingga 20.30 WIB. Dua korban sebelumnya telah diperiksa pekan lalu.
"Pemeriksaan sama, seperti korban sebelumnya, ditanya hubungan kerja dengan pelaku, kejadiannya bagaimana," ujar Shanti.
Shanti mengungkapkan, AIS merupakan korban pelecehan pelaku yang paling lama. Diduga, GN melecehkan korban sejak Maret 2010 hingga 2011.
"Waktu 2010 itu tidak terlalu parah, hanya pantatnya dipegang-pegang, tapi kemudian ada kejadian pada 2011 yang paling parah. 2011 ini, lebih dari pegang-pegang, tapi tidak sampai penetrasi," bebernya.
Shanti mengatakan, dalam waktu setahun itu, AIS memang tidak setiap hari mendapat perlakuan tidak senonoh. Namun, terkadang, GN mengeluarkan kata-kata kurang sopan juga terhadap AIS.
"Korban kan benerin roknya, lalu dibilang pelaku 'kenapa, takut celana kamu kelihatan? Nggak usah pakai celana'," kata dia.
Shanti melanjutkan, selama satu tahun itu, korban ketakutan karena sering mendapat ancaman dari pelaku. Sehingga korban tidak berani menceritakan kegelisahannya itu kepada keluarga atau teman-temannya.
"Selama satu tahun dia takut dan hampir setiap hari diancam pelaku bahwa kejadian itu tidak boleh (terdengar) keluar," kata dia.
AIS juga pernah diancam akan dimutasi ke luar Jawa bila membocorkan perbuatan pelaku terhadapnya ke rekan-rekan kerjanya.
"Dia diancam akan dimutasi ke Papua. Dia nggak berani cerita, sampai korban AN cerita dan nangis, akhirnya dia cerita bahwa dia juga korban dan dia juga nangis," ujarnya.
Bahkan, pelaku juga berupaya mengiming-imingi korban akan menyekolahkan korban di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) bila menutup mulutnya. Korban juga sering 'dirayu' dengan materi.
"Kalau pas libur, Sabtu atau Minggu suka ditelepon 'kamu di mana, belanja apa, mau nggak ditransfer?," tutupnya.
(mei/her)











































