Sutanto mengatakan keterkaitan bom Solo dengan Cirebon maupun pelakunya sudah teridentifikasi jaringannya. Mereka sudah disiapkan untuk melaksanakan bom bunuh diri.
Menurut dia, tidak mudah untuk menangani teror karena tidak semuanya bisa dibuka pada semua aparat di lapangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bapak mendukung usaha investigasi? "Kendala di lapangan memang seperti itu yang saya katakan tadi. Sekali lagi tentu tidak mudah mengingat kejadian-kejadian yang telah lalu. Apalagi sekarang mereka bergerak perorangan, tidak mudah dideteksi seperti pada waktu-waktu yang lalu. Karena itu perlu kerahasiaan yang tinggi dari aparat yang operasi di lapangan," papar Sutanto.
Sutanto juga menepis hal tersebut terkait dengan upaya menambah kewenangan BIN setelah aparat kepolisian gagal menangkap pelaku.
"Ini naudzubillah min dzalik, pertanyaan kok seperti itu. Tolong jangan seperti itu. Kita semua tentu tidak ingin terjadi seperti itu," kata Sutanto.
Menurut dia, penanganan teror tentu tidak hanya mengandalkan penindakan di lapangan saja atau secara hukum saja.
"Di sini lah pentingnya secara simultan deradikalisasi selain penanganan secara hukum. Deradikalisasi yang melibatkan seluruh komponen masyarakat dalam berbagai hal," kata dia.
Apakah dengan begini intelijen harus diberi kewenangan menangkap yang dimasukkan dalam UU intelijen? "Saya tidak berbicara seperti itu. Tapi, silakan dikaji sendiri. Kalau memang negara ingin kuat seperti apa harusnya, iya kan," jawab Sutanto.
Ia menambahkan BIN masih mendalami keterkaitan bom Solo dengan temuan bom di Ambon. "Masih dalam penyelidikan," ujarnya.
(aan/fay)










































