"Maksudnya siaga I ini tidak ada yang cuti, lihat kerja rutin tidak ada yang keluar tempat dari garnisun, minimal 2/3 kuat itu siap setiap saat," jelas Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (26/9/2011).
Baharudin mengatakan, Kapolda Metro Jaya Irjen Untung S Radjab juga menginstruksikan kepada jajarannya untuk meningkatkan kewaspadaan di tempat-tempat umum dan sarana peribadatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Polisi mengimbau agar pengamanan swakarsa diberdayakan untuk meningkatkan kewaspadaan di lingkungan masing-masing. Masyarakat diminta segera melapor bila ada warga yang mencurigakan.
"Kita didukung pengamanan masing-masing seperti di lingkungan kerja, sekolah, tempat umum harus kita aktifkan termasuk tempat ibadah gereja, mesjid dan lainnya yang bisa saja menjadi sasaran gangguan keamanan seperti di Solo," paparnya.
Untuk pengamanan di tempat-tempat peribadatan, Baharudin mengatakan, pengamanan secara terukur dilakukan oleh masing-masing jajaran Polres dan Polsek yang menentukan.
"Di tempat ibadah ini saya sekali lagi katakan menjadi ketentuan masing-masing Kapolres dan Kapolsek wilayah yang mana yang perlu diturunkan petugas, caranya apa lakukan pemeriksaan di tempat itu menjadi taktis dan teknis Kapolres," jelasnya.
Adapun pengamanan dilakukan dengan dua cara bertindak yakni pengamanan terbuka dan pengamanan tertutup. Pengamanan terbuka dilakukan oleh polisi berseragam dinas.
"Pengamanan terbuka maksudnya mengadakan patroli, hadir di tempat-tempat yang butuh kepolisian di tempat itu," kata dia.
Sementara pengamanan tertutup dilakukan oleh anggota berpakaian preman seperti reserse dan intel. Pengamanan tertutup dilakukan untuk mengawasi pergerakan jaringan teroris atau pun pihak-pihak yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.
"Anggota yang tidak bersergam ini untuk menelusuri jaringan-jaringan yang ada, yang bisa saja ada koneksi kejadian di luar Jawa dengan orang-orang yang ada di Jakarta menjadi pantauan petugas," tukasnya.
Minggu (25/9) pagi kemarin, sebuah bom berkekuatan daya ledak rendah meledak di gereja GBIS, Kepunton Solo, saat umat nasrani tengah melaksanakan ibadat. Bom tersebut menewaskan pelaku bom bunuh diri dan seorang jemaat. 28 Orang lainnya mengalami luka-luka dalam peristiwa ini.
(mei/gun)











































