"Menyusul serangan bom bunuh diri pada 15 April di sebuah masjid di Cirebon, Jawa Barat yang mengakibatkan 26 orang terluka, kami yakin serangan lebih lanjut mungkin direncanakan di lokasi lain di Jawa termasuk Semarang, Surabaya dan Surakarta (Solo)."
Demikian ditulis Kementerian Luar Negeri Inggris dalam travel summary untuk wilayah Indonesia yang dipublikasikan di http://www.fco.gov.uk. Tulisan di laman tersebut diperbarui pada 25 September 2011, saat bom bunuh diri meledak di Solo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Kemlu Inggris, di seluruh Indonesia masih ada ancaman teroris. Kelompok teroris masih berencana dan berniat melakukan serangan kapan pun dan di mana pun. Serangan tersebut tidak pandang bulu, termasuk tempat yang sering dikunjungi ekspatriat dan pelancong asing. Hal itu antara lain terlihat dalam serangan teroris 17 Juli 2009 di Hotel Marriott dan Ritz Carlton, bom Bali pada Oktober 2005 dan bom Bali 2002.
Sejumlah peristiwa bom di Indonesia menunjukkan adanya ancaman teroris yang sedang berlangsung di Indonesia. Kemlu Inggris menyebut tempat yang sering dikunjungi orang asing dan ekspatriat seperti tempat peristirahatan di pantai, bar dan restoran, hotel dan pusat perbelanjaan yang menjual merek internasional, tempat-tempat wisata, tempat ibadah, terminal feri dan bandara merupakan target potensial bagi kelompok tersebut.
Kemarin Minggu (25/9) sekitar pukul 11.00 WIB, tak lama setelah kebaktian selesai, bom bunuh diri meledak di GBIS Kepunton, Solo, Jateng. Pria pelaku bom bunuh diri tewas seketika dengan luka parah di bagian perut. Sedangkan belasan jemaat gereja menjadi korban luka-luka.
Presiden SBY menyebut pelaku ledakan bom bunuh diri berkaitan dengan jaringan teroris di Kota Cirebon. Namun kesimpulan sementara ini masih harus diikuti dengan investigasi lebih mendalam.
(vit/fay)











































