"Kira-kira jaraknya 3 meter dari orang itu (pelaku)," kata Yolanda kepada wartawan di dekat lokasi.
Menurut dia, di gereja pagi itu dia bersama teman-temannya mengikuti doa bersama dan menjadi anggota paduan suara gereja. Seusai Pendeta Sigit menyampaikan khotbah dan doa bersama, semua jamaah pulang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kaki kanan saya tiba-tiba jadi terasa perih dan panas seperti terbakar," kata Yolanda.
Di bagian betis kanan dan mata kaki sampai saat ini masih terlihat bercak-bercak hitam yang terkena ledakan. Dia tidak menjalani rawat inap, tapi setelah mendapatkan pengobatan langsung diperbolehkan pulang.
Setelah kejadian dengan menahan sakit Yolanda ditarik temannya menjauh dari lokasi. Setelah itu dirinya bersama beberapa orang korban lainnya langsung di bawa menuju RS dr Oen Solo.
"Teman-teman saya yang terluka adalah Delfiana dan Anggraeni," katanya.
Dia mengatakan dirinya tidak tahu saat pelaku datang. Dirinya hanya tahu setelah kejadian bom meledak dan pelaku tewas tergeletak di dekat pintu.
"Pelaku tidak bawa tas hanya jaket yang dipakai, lainnya tidak tahu," kata Yolanda.
Menurut dia, saat acara kebaktian di gereja, mereka bertugas sebagai anggota paduan suara. Jemaah yang mengikuti doa berada di depan, duduk di kursi. Sedang yang bertugas menyanyi ada di lantai 2.
Menurut dia, temannya Delfiana dan Anggraeni juga ikut dirawat di rumah sakit. Sedang anggota paduan suara yang lain yakni Olivia Putri mengalami luka parah.
"Kami belum tahu keadaannya dia seperti apa, dia parah dan masih dirawat," ungkap Yolanda yang tinggal di kampung Tegalharjo Kecamatan Jebres yang tidak jauh dari lokasi gereja.
Dia menambahkan sebagian besar anggota jemaah gereja adalah warga sekitar yang tidak jauh dari gereja GBIS Kepunton.
(bgs/gah)











































