Smita: Cara Melipat Surat Suara Pilpres Aneh
Rabu, 07 Jul 2004 17:35 WIB
Jakarta - Pencoblosan tembus sampai halaman judul menjadi kericuhan tersendiri dalam Pemilu Presiden, 5 Juli 2004 lalu. Coblosan tembus terjadi akibat pelipatan surat suara yang tidak umum. Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Cetro Smita Notosusanto, dalam jumpa pers bersama Cetro, JPPR, dan JAMPPI di Timor Room, Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (7/7/2004). "Ini kan aneh cara melipat suaranya kok begini. Surat suara dilipat keluar jadinya tembus. Harusnya dilipat ke dalam. Jadi begitu pemilih buka kebuka semua," kata Smita sambil mempraktekan pelipatan surat suara.Smita juga mengkritik pencetakan surat suara Pilpres tersebut. KPU beralasan pencetakan surat suara untuk menghemat, menurut Smita justru pemborosan. "Tulisan yang ada di atas foto calon adalah pengulangan dari apa yang tertulis di kertas surat suara, inikan pemborosan," katanya. Cetro, JPPR dan JAMPPI lantas merekomendasikan agar rancangan surat suara tidak hanya atas dasar biaya produksi tapi mempertimbangkan kemudahan pemilih. Rancangan surat suara juga harus memperhatikan pelipatan dan kebiasaan pemilih. "KPU harus melakukan uji coba dengan melibatkan pemilih dari berbagai lapisan agar masalah yang ditimbulkan karena rancangan surat suara dapat diidentifikasi sedini mungkin dan dicari soulusinya," tandas Smita.
(iy/)











































