Pendemo yang mengenakan kaos putih dan ikat kepala warna kuning itu mulai bergerak meninggalkan Istana, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Sabtu (24/9/2011), pukul 12.30 WIB.
Aksi unjuk rasa petani ini digelar untuk memperingati Hari Tani Nasional yang jatuh pada hari ini. Petani yang ikut berdemo ini berasal dari beberapa desa. 2 Diantaranya dari Kelurahan Cihajuang Kecamatan Cibaliung Kabupaten Pandeglang, Banten dan Desa Cipeujeuh Wetan Kecamatan Lemah Abang, Cirebon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu petani yang mengalami masalah sengketa tanah yakni Sakata. Warga Cihajuang ini mengaku kalau tanah sekitar 9.000 hektar di wilayahnya dikuasai oleh Perum Perhutani. Tanah tersebut ditanami Perhutani dengan pohon jati dan mahoni.
"Menurut kami itu adalah tanah milik nenek moyang kami. Kita punya bukti-bukti. Kita punya girik dan jatah alam. Tapi tanah kami malah diklaim oleh Perhutani. Saya harus menyewa tanah itu untuk bercocok tanam padahal itu adalah tanah kami," keluhnya.
Hampir sama seperti Sakata. Abdul Kolik, Warga Cipeujeuh menuntut tanahnya yang dipakai pemerintah untuk pembangunan PLTU. Gara-gara tanahnya dipakai untuk proyek PLTU tersebut, jumlah tanah yang dimiliki otomatis berkurang hingga berimbas pada pengurangan hasil panen.
"Pemerintah membeli tanah itu untuk PLTU tapi pembeliannya dilakukan secara paksa. Itu kan sangat merugikan. Maka kami minta agar dikembalikan," pintanya.
(gus/gah)
