Chandra menceritakan, pertemuannya dengan Nazaruddin terjadi pertama kali pada tahun 2008. Saat itu, Chandra diajak bertemu oleh Saan Mustopa yang memang telah dikenalnya sejak tahun 1990-an saat masih mahasiswa.
"2008 Saan menghubungi saya dan mengajak ketemu. Nah di situlah kemudian saya mengiyakan. Di pertemuan nostalgia itu, saat saya datang di sana ternyata ada Anas Urbaningrum dan kemudian ada orang yang kemudian saya baru tahu itu namanya Nazaruddin," kata Chandra.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertemuan kedua terjadi pada tahun 2009 di sebuah kafe di Jakarta sebelum Chandra mendapat kasus dan ditahan oleh polisi. Pertemuan itu juga diprakarsai oleh Saan Mustopa. Dan lagi-lagi, Saan mengajak Anas Urbaningrum dan Nazaruddin.
"Saat itu Saan mengajak Anas dan Nazar, Saan ingin mendengar versi saya soal kriminalisasi saya dan Pak Bibit yang waktu itu memang sedang terjadi," kata Chandra.
Setelah Chandra keluar dari tahanan, dirinya kembali bertemu dengan Nazaruddin. Kali ini, Nazaruddin menghubungi Chandra dan mengundang ke rumahnya di daerah Jalan Pejaten Raya, Jakarta Selatan.
"Yang menghubungi saya Nazaruddin, melalui BBM. Saya tanya ketemu untuk apa, dia jawab Benny K Harman ingin bertemu. Dan saya mengiyakan, itu pertama kali saya ke rumah Nazaruddin," kata Chandra. Dalam pertemuan ketiga itu, Benny bertanya soal kasus kriminalisasi yang dialaminya.
Setelah pertemuan itu, Chandra mengaku dihubungi lagi oleh Nazaruddin setelah Lebaran 2010, sebelum MA menolak SKP II. Saat itu, Nazaruddin meminta Chandra ke rumahnya karena Benny K Harman kembali ingin bertemu.
"Sebelum ke sana, saya sempat kirim BBM bertanya apakah Benny sudah datang? Dia jawab odw, sudah dekat, lalu saya jawab ok. BBM masih ada, belum di-end chat," kata Chandra sambil memperlihatkan blackberry-nya.
"Di pertemuan itu kita silaturahmi dengan Benny dan kita bicara umum, soal pemberantasan korupsi. Tidak bicara kasus," tegas Chandra.
Pertemuan keempat itu merupakan pertemuan terakhir dengan Nazaruddin. Meski Nazaruddin beberapa kali mengirim BBM kepadanya, Chandra mengaku tidak pernah menjawabnya.
"Beberapa kali dia kirim BBM, tapi saya tidak pernah jawab karena sudah ada indikasi keterlibatan Nazaruddin dalam kasus di Kemenakertrans," katanya.
(ken/asy)











































