"Pendatang baru merupakan masalah rutin tiap tahun. Memang sulit mengontrolnya. Kita terus berusaha mengantisipasinya sebaik mungkin" ujar Wakil Walikota Jakarta Barat Sukarna kepada wartawan, Kamis (22/9/2011).
Menurut Sukarna, razia yang berhasil menjaring 164 pendatang gelap ini memang difokuskan pada kawasan padat penduduk yang banyak didatangi warga daerah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wakil Lurah Kalideres, Mursalin mengatakan, setiap habis Lebaran jumlah pendatang baru di kelurahan Kalideres memang meningkat. Pemukiman yang berdampingan dengan Kota Tangerang sehingga banyak pendatang mengincar kerja di pabrik-pabrik.
"Di sana juga banyak home industry, kontrakan murah, dan dekat terminal bus antar kota antar provinsi," ungkapnya.
Warga yang terjaring OYK antara lain Sri Muharti, asal Tangerang dan Astri asal Pemalang, Jawa Tengah. Astri mengaku sudah lebih dari setahun tinggal di Jakarta. Dengan alasan biaya dia urung membuat KTP DKI.
"Pengen buat KTP. Tapi karena tidak punya kartu keluarga, bikinnya harus lewat calo bayar Rp 250 ribu. Saya tidak punya uang," jelasnya.
Mereka yang terjaring selanjutnya harus menjalani sidang tindak pidana ringan. Selain merazia penduduk tanpa Kartu Tanda Penduduk DKI Jakarta, petugas juga menjaring 16 gelandangan. Mereka akan dibawa ke Panti Sosial Kedoya untuk dipulangkan ke daerah asal.
(did/nwk)











































