Seperti dialami oleh Susi (21), seorang DJ di sebuah kelab malam di kawasan Mangga Dua. Susi yang merupakan warga Bekasi ini kedapatan tidak melapor ke RT setempat.
"Saya cuma kos, tiap minggu pulang. Dekat kok, Bekasi. Kalau pulang pergi capai. Jadi kos saja," tutur Susi yang sibuk berdandan di kosnya, Jl Ekonomi, Karang Anyar, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Rabu, (21/9/2011) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa dari mereka bahkan tampak telah berdandan dan siap untuk menjalani kehidupan malamnya. Mereka yang menggunakan rok mini, atasan ketat dan parfum wangi semerbak, tak berkutik ketika tidak bisa menunjukan KTP Jakarta.
"Saya dari Tasikmalaya. Habis lebaran ke sini, ikut teman," kisah Silvi yang tidak bisa menunjukkan KTP Jakarta.
Setelah menyisir kos-kosan yang ada di perkampungan warga, petugas pun menyisir ke Apartemen Pesona Bahari. Dengan dipimpin langsung Walikota Jakpus, Syaifulloh, seluruh tower dan lantai yang dipilih secara acak di gedor satu-persatu.
Tak sia-sia, razia petugas berhasil menjaring seorang perempuan China yang tidak bisa menunjukan paspornya. Dengan bahasa China yang kental, dia memberontak saat di-razia. Namun percuma, petugas imigrasi tetap menggelandang perempuan berbaju mini ini.
"Mereka akan menjalani sidang tindak pidana ringan di PN Jakpus, Kamis ini pukul 09.00 WIB. Bagi WNA yang tidak beridentitas, akan dideportasi ke negara asalnya oleh pihak terkait. Bagi orang daerah yang tak ber KTP dan tak bekerja, akan kita pulangkan," terang Syaifulloh.
"Razia malam ini akan terus dilakukan hingga dirasa cukup. Kami belum punya data akhir berapa yang terjaring razia karena razia masih berlangsung," tandasnya.
(asp/nvc)











































