TKW Dede Meninggal di Saudi, Keluarga Minta Jenazah Dipulangkan

TKW Dede Meninggal di Saudi, Keluarga Minta Jenazah Dipulangkan

- detikNews
Rabu, 21 Sep 2011 19:42 WIB
Jakarta - Dede Hodijah binti Omo (36) mengadu nasib sebagai tenaga kerja wanita (TKW) ke Arab Saudi demi memperbaiki perekonomian keluarganya. Bukannya pundi-pundi rupiah yang diterima keluarga di Tanah Air, melainkan kabar yang menyebut Dede sudah meninggal. Namun 3 bulan meninggal, jenazah Dede belum juga tiba di Tanah Air.

"Kami cuma dapat kabar dari sponsor kalau Ibu Dede sudah meninggal. Tapi kami nggak tahu, kenapa dia meninggal. Apakah karena sakit atau mendapat kekerasan atau apa," kata sepupu Dede, Aab Supangat, kepada detikcom, Rabu (21/9/2011).

Aab menuturkan, Dede berangkat meninggalkan rumahnya di Kampung Cihanja RT 01 RW 2, Desa Lingkung Pasir, Kecamatan Cibiuk, Garut, Jawa Barat pada 24 April 2011. Perusahaan yang memberangkatkannya adalah PT Youmba Biba Abadi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun setelah berangkat ke Saudi, tidak terdengar kabar Dede. Aab menuturkan, keluarga mencoba mencari informasi ke sponsor maupun perusahaan pemberangkat agar disambungkan ke majikan Dede, tapi tidak mendapat respons. Hingga pada 22 Juli 2011, keluarga dapat info dari sponsor bahwa Dede sedang sakit keras dan koma di sebuah RS di Jeddah.

"Pada 23 Juli, sponsor bilang sudah meninggal. Saya mencari informasi ke Jeddah, kebetulan ada saudara sepupu kerja di sana. Dia berhasil mengecek ke majikan lewat HP, ternyata meninggalnya 28 Juni," sambung Aab.

Keluarga pun meminta kejelasan dari perusahaan pemberangkat Dede mengenai penyebab kematian perempuan kelahiran 12 Agustus 1975 itu. Perusahaan pemberangkat lantas berjanji akan datang ke rumah keluarga Dede di Garut.

"Saya tungu sampai maghrib tidak juga datang. Lalu saya bel, alasannya nggak punya uang dan nggak ada mobil dari Bogor. Lalu tanggal 28 dia datang sama sponsor dan didampingi Dinas Tenaga kerja dan Transmigrasi Kabupaten 2 orang. Tapi katanya belum ada info lagi," terang Aab.

Sehari kemudian, Aab bertolak ke Jakarta mendatangi Kementerian Luar Negeri. Di sana dia bertemu dengan seseorang bernama Dodo yang kemudian memberikan nomor kontak orang KJRI di Jeddah. Tak buang waktu, keluarga pun menghubungi petugas di KJRI Jeddah. Menurut seorang petugas, pemulangan jenazah memerlukan waktu dan proses. Apalagi jarak dari KJRI menuju RS tempat jenazah berada sekitar 950 km.

"Saya pahami itu. Lalu seminggu lagi saya telepon. Katanya tinggal menunggu jadwal penerbangan. Tapi hingga seminggu kemudian belum ada informasi sehingga saya telepon lagi. Saya dikasih nomor petugas lain namanya Pak Ansari," sebut Aab.

Betapa sedihnya hati Aab ketika petugas malah saling lempar ketika dikonfirmasi. Aab merasa dipermainkan. Akhirnya keluarga menghubungi perusahaan pemberangkat Dede, oleh seorang petugas di perusahaan itu dikatakan masih dalam proses pemulangan jenazah.

"Saya dan keluarga tidak puas, Senin 12 September saya ke PT (PJTKI) sama keluarga. Saya tanya siapa yang kompeten, lalu dikasih ke Pak Dodi. Tapi dia bilang, 'mau kasih kabar apa ke keluarga soalnya saya lagi menunggu dari KJRI dan saya nggak punya pulsa'," tutur Aab.

Keluarga Dede pun beragumen dengan petugas perusahaan itu. Mereka heran mengapa petugas itu tidak menggunakan fasilitas kantor untuk mengurus permasalahan itu. Keluarga lantas melanjutkan perjalanan ke Jakarta untuk pergi ke Kemlu.

"Kami nggak ketemu sama Pak Dodo karena nggak ada di tempat, sehingga diterima Pak Aidil. Dia bilang minta maaf karena keterlambatan pihaknya dan akan menghubungi Jeddah. Katanya Rabu mau kasih kabar, ternyata nggak ada kabar. Kamis saya telepon sekitar pukul 20 WIB, dia bilang baru mau akan ditelepon ke Jeddah," papar Aab.

Sedih, kesal, putus asa. Itulah yang dirasakan keluarga Dede. Mereka bertanya-tanya apakah karena bukan orang berduit maka masalah mereka dilempar ke sana ke mari tanpa kejelasan.

"Kami maunya kita itu sama-sama usaha, jadi jangan sampai nggak mau komunikasi sama kita. Jangan dilempar-lempar begini. Hari ini saya telepon Pak Dodo Kemlu tapi HP-nya nggak aktif. Pas HP-nya aktif, telepon saya nggak diangkat. Dari pihak PT juga saya telepon beberapa kali nggak diangkat," keluhnya.

Menurut Aab, Dede adalah perempuan kampung tulen. Sebelum mengadu nasib ke Saudi, bersama suaminya Dede menjadi buruh tani dan mengurus kebun serta hewan ternak. Sepengetahuan keluarga, Dede tidak memiliki penyakit tertentu. Kepergian Dede ke Saudi adalah untuk pertama kalinya.

"Waktu saudara saya tanya ke majikan Ibu Dede, katanya majikan sudah lepas tanggung jawab. Katanya paspor, visa dan berkas sudah disampikan ke perwakilan PT yang ada di Jeddah. Gaji 3 bulan juga sudah dititipkan ke perwakilan. Tapi ketika saya tanya ke PT, katanya mereka belum diterima," lanjut pria 39 tahun ini.

Belum lama ini, teman Aab yang menjadi sopir di Saudi dimintai tolong untuk mengecek keberadaan jenazah Dede di RS. Teman Aab itu lantas meminta bantuan perkumpulan mahasiswa di Saudi. Menurut mahasiswa itu, mereka mendapat informasi bahwa benar ada jenazah Dede di RS itu.

"Baru Selasa kemarin saya telepon teman saya. Katanya jenazah masih diotopsi atau apa begitu," sambungnya.

Hari ini Aab bersama keluarga Dede dan warga kampungnya sebanyak 8 orang telah mendatangi Komnas Perempuan untuk mengadu. Mereka juga berharap bisa curhat ke salah satu televisi swasta pagi tadi dengan harapan pemerintah mau membantu, sayang keinginan itu belum terpenuhi.

"Harapan kami, kami mohon dengan sangat, mengingat kami sudah ke sana ke mari, kami minta solusi terbaik. Kami minta jenazah dikembalikan ke keluarga. Kami berharap ada informasi mengapa dia meninggal. Terus terang saya kecewa pada pemerintahan apalagi sama PT," imbuhnya.

Menurut Aab, upaya keluarga untuk mendapatkan informasi tentang meninggalnya Dede dan mengupayakan pemulangan jenazah sudah memakan banyak biaya dan waktu. Karena itu dia berharap pemerintah tersentuh sehingga mau membantu mereka.

"Suaminya cuma buruh tani. Kami ke sana ke sini mengutang, jual ayam. Kami hanya ingin jenazah saudara kami pulang. Saya ke Jakarta bersama suami Ibu Dede, kedua anaknya, saudara yang lain, polisi dari polsek, dan dari kelurahan dan RT," ucap Aab yang juga mendatangi Migrant Care untuk minta bantuan.

(vit/nwk)


Berita Terkait