"Di sekolah guru represif pada anak. Bukan dirangkul tapi dimaki, dimarahi dan didisiplinkan dengan cara yang membuat anak agresif. Akal sehat tidak jalan," Ketua Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA), Diena Haryana kepada detikcom, Selasa (20/9/2011).
Aksi pelajar semakin terlihat brutal. Seperti sudah menjadi tradisi tawuran antara pelajar SMU 6 dengan SMU 70 kembali berulang. Tidak ada jalan damai kedua belah pihak untuk meredam aksi para siswanya. Peran guru sebagai tenaga pendidik menjadi sorotan utama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diena juga melihat penyelenggara pendidikan seakan tutup mata dengan aksi-aksi bullying, padahal ini tumbuh subur dan dialami para siswa. Sistem pendidikan yang tidak ideal membuat para siswa kehilangan hak-haknya seperti hak untuk hidup, hak untuk tumbuh, hak perlindungan dan hak berpartisipasi.
"Pelajar agresif korban dari sistem pendidikan di sekitar mereka yang tidak ideal. Ada hak mereka yang tidak terpenuhi," jelasnya.
Diena mendorong agar pihak sekolah mau melibatkan psikolog dan orang tua untuk menangani perilaku para pelajar. Suasana tidak kondusif di rumah dan pola asuh yang membuat para pelajar tidak nyaman akan menciptkan letupan kemarahan ketika mereka berada di luar rumah.
"Para pelajar tertindak sebagai kompensasi dari kemarahan. Mereka merasa ditekan, disalahkan, dimaki terus sehingga muncul keinginan balas dendam dengan tawuran," tutupnya.
(did/vit)











































