"Pertama, jalurnya yang tidak steril banget. Para pemakai jalan masih banyak yang mengandalkan petugas. Kalau ada petugas yang jaga, mereka tidak lewat jalur (busway), tapi kalau tidak ada yang jaga masuk lagi," kata Kadishub DKI Jakarta Udar Pristono dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (19/9/2011).
Kendala yang kedua adalah masalah bahan bakar gas. Meski kini harganya telah seragam, namun supply-nya masih tersendat. Lokasi SPBG masih sedikit, akibatnya banyak bus TransJ yang terpaksa harus mengantre di titik-titik SPBG yang masih terbatas. Itulah salah satu penyebab headway atau jarak antar bus yang lama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan tahun ini diadakan 44 bus gandeng yang diperuntukkan untuk Koridor XI, X dan koridor lainnya. Khusus untuk Koridor XI dialokasikan 21 dari 44 bus yang ada. Sedangkan untuk Koridor X dan lainnya ditambahkan 23 bus gandeng.
"Untuk Koridor I sedang dilelang. Nanti diadakan 66 bus gandeng untuk Koridor I dan VIII. Di mana di koridor I nantinya diadakan 45 bus dan sisanya untuk Koridor VIII. 45 Bus gandeng itu setara 90 single bus," terang Pris.
Dia menambahkan, sistem pelayanan bus TransJ tidak mengenal koridor by koridor, tetapi sistem jaringan. Artinya, semua bus yang ada dijumlahkan lalu disebarkan di koridor yang sedang membutuhkan.
"Nanti yang ramai kita tambahkan bus dari koridor yang sepi. Kalau misalnya 45 bus gandeng di Koridor I itu kurang maka akan ditambahkan dari koridor lain yang sedang sepi. Sekarang semua halte di Koridor I sudah disiapkan untuk bus gandeng," lanjut Pris.
(vit/nwk)











































