Tukang Topeng Monyet: Jangan Ditutup, Kita Tidak Pernah Menyiksa

Tukang Topeng Monyet: Jangan Ditutup, Kita Tidak Pernah Menyiksa

- detikNews
Senin, 19 Sep 2011 17:25 WIB
Tukang Topeng Monyet: Jangan Ditutup, Kita Tidak Pernah Menyiksa
Jakarta - Banyak suka duka yang dipetik Haryadi (31) saat menggeluti profesi sebagai tukang topeng monyet. Ia dan si monyet kesayangannya, Timbul (2), kompak menggelar atraksi keliling untuk mencari rezeki di Ibukota.

Haryadi sudah menjadi tukang topeng monyet keliling selama 11 tahun. Yadi biasanya berkeliling bersama Timbul di bilangan Jakarta Selatan sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Berbekal kotak kecil pemutar musik dangdut, Yadi mencari penonton yang tertarik menonton atraksi Timbul.

"Saya enggak setuju kalau disebut ada penyiksaan apalagi minta ditutup. Satu-satunya usaha yang kasih duit anak-istri kita ya dari pekerjaan kayak begini (topeng monyet)," kata pria yang akrab disapa Yadi ini kepada detikcom di Jalan Basuki Rahmat RT 012 RW 10, Kelurahan Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (19/9/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yadi menceritakan hijrah dari kampung halamannya, Cirebon, ke Jakarta sejak tahun 2000. Ia lalu berkenalan dengan pengusaha topeng monyet, Haryono (57) dan bekerja menjadi pegawainya.

Dia beralasan, pekerjaan yang sekarang dilakoninya ini mampu mendatangkan penghasilan lebih ketimbang berdagang atau menjadi sopir Metro Mini. Dengan menjadi tukang topeng monyet keliling dia masih bisa menyisihkan sebagian uangnya untuk ditabung.

"Yang ramai itu kalau hari libur anak sekolah. Kalau hari biasa enggak begitu ramai," kata Yadi.

Yadi bisa meraup penghasilan Rp 40 ribu per hari. Penghasilan tersebut sudah dipotong dengan setoran Rp 15 ribu kepada majikannya yang menyewakan monyet yang biasa dia boyong. Bila sepi penonton, Rp 15-20 ribu bisa dia kantongi.

"Pernah juga enggak sampai target setoran, tapi Bapak Ono (sebutan Haryono) enggak maksa harus sesuai target," katanya.

Dia mengaku, sejak awal berkenalan dengan Timbul dirinya tidak mendapatkan kesulitan. Timbul dikatakannya mudah beradaptasi dengan si pembawa.

"Biasanya monyet yang sampai ke sini sudah langsung mentas, enggak pakai dijinakkan atau dilatih dari awal," jelasnya seraya menambahkan monyet mulai kerasan dengan orang yang membawanya kurang lebih 3 bulan.

Selain Yadi, salah seorang tukang topeng monyet lainnya, Teguh (24), bercerita mengenai suka duka dia menjadi tukang topeng monyet. Bedanya dengan Yadi, Teguh memilih mangkal bersama Ucil di dekat kantor KPU di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat.

"Jajanan monyet dengan orang itu mahal monyet," kata Teguh.

Bagaimana tidak, dalam sehari Teguh harus melayani kemauan Ucil yang meminta minum susu. "Sehari bisa habis tiga susu kemasan, kita saja biasanya air putih," ujarnya sambil tertawa.

Laki-laki asal Cirebon ini mengaku kerasan dengan hasil yang dinikmatinya dari apa yang dilakoninya sekarang walaupun tidak menentu jumlah yang dibawa pulang.

"Yang penting ada sisa buat nabung," kata Teguh.

Adi (25), tukang topeng monyet lainnya enggan menanggapi banyak soal aksi yang didomnasi warga negara asing yang menyebut ada aksi penyiksaan di balik pelatihan topeng monyet. Dia mengaku bingung apabila sekelompok demonstran meminta usaha yang dijalankannya ditutup.

"Kalau ditutup mau kerja apalagi, usaha sekarang sudah cukup bisa hidupin keluarga," ujar Adi yang biasa berkeliling dengan Bondel, monyet berumur 4 tahun.

(aan/vit)


Berita Terkait