Pengamatan detikcom, Senin (19/9/2011), kandang-kandang monyet dibuat dari bambu-bambu dan diberi sekat berukuran 50x50 centimeter. Beberapa monyet terlihat melakukan beragam aktivitas, ada yang sedang makan, mencari kutu anaknya dan ada juga yang hanya berdiam diri. Bau tidak sedap juga menyengat hidung akibat banyaknya kandang-kandang monyet yang kotor di kawasan padat penduduk ini.
"Orang luar kampung biasa menyebutnya ini Kampung Monyet karena warga di sini banyak memelihara dan berprofesi tukang topeng monyet," kata Haryono (57), kepada detikcom, saat ditemui di Warnet miliknya di lokasi tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ono menceritakan mulai menggeluti usaha topeng monyet ketika menjadi korban banjir pada tahun 2002. Banjir akibat luapan Sungai Cipinang ini ikut merendam warung nasi yang dikelolanya. Singkat kata, usaha warung nasinya menjadi bangkrut.
"Beberapa pemuda pendatang yang tinggal di dekat rumahnya mengusulkan saya untuk memelihara monyet untuk kemudian dijadikan ladang pekerjaan. Pemuda-pemuda itu selama ini bergelut dengan topeng monyet. Tahun 2002, saya beli di Kampung Rambutan, waktu harganya ada yang Rp 600 ribu dan Rp 400 ribu," papar Ono.
Menurut dia, monyet yang dibelinya sudah dalam kondisi 'jadi'. Maksudnya, monyet tersebut sudah mulai memahami perintah bila diberikan alat atau mainan dari majikannya.
"Sambil jalan pelan-pelan mereka diajari supaya bisa segala permainan," kata laki-laki paruh baya ini.
Setoran yang diterimanya saat itu bisa dibilang kecil. Satu pegawai yang membawa monyetnya mangkal menyetor Rp 8 ribu setiap hari. Namun dia memilih tidak memberatkan pegawainya bila suatu hari uang yang didapat tidak sampai target setoran.
"Asal mereka jujur saya tidak masalah," ujar Ono.
Usahanya kian berkembang. Monyet yang dimilikinya kian bertambah sesuai permintaan kaum pendatang yang meminta pekerjaan kepada Ono. Usahanya kian moncer dengan bertambahnya alat musik untuk para pegawai pertunjukan topeng monyet.
"Kalau pakai alat musik setoran Rp 15 ribu. Tapi kalau tidak ada ya cukup Rp 10 ribu saja," kata Ono yang membuka kios di belakang Lapas Cipinang.
Ono enggan membocorkan jumlah setoran yang diterimanya dari setiap tukang topeng monyet itu. "Enggak apa-apa, yang penting mereka bisa makan dulu, asal jujur saja," kata Ono.
Meski punya banyak monyet, Ono mengaku tidak tahu menahu tentang tabiat atau kebiasaan tiap ekor monyet yang dimilikinya. Ia hanya memenuhi kebutuhan kesehatan tiap monyet dengan memberikan vitamin dan jamu agar stamina monyet tetap terjaga. Tidak lupa juga imunisasi anti rabies yang rutin dilakukan dua tanun sekali dari dokter kecamatan setempat.
"Kebiasaan monyet bagaimana itu yang tahu, yang pegawai saya. Saya cukup jaga kesehatan mereka dengan vitamin dan jamu," katanya.
Ramuan apa yang diberi untuk monyet agar staminanya kuat? "Telur ayam kampung, madu, pil stamina, dan susu. Murah tapi meraciknya susah. Belum lagi daun singkong. Semuanya dikasih 2 kali seminggu," kata Ono.
Terkait tudingan yang dilontarkan sejumlah aktivis yang mayoritas warga negara asing yang menyebut adanya penyiksaan di balik aksi topeng monyet, Ono enggan mengomentari.
"Yang saya tahu saya beli monyet sudah 'jadi'. Malah saya selalu pesan kalau monyet-monyet itu dijaga. Kan kasihan kalau monyetnya stres atau sakit, yang harusnya bisa cari uang makan malah enggak bisa," ujar dia.
Ia berharap pemerintah tidak terlalu reaktif terhadap aksi sejumlah demonstran yang menolak aksi topeng monyet. "Jangan sampai ditutup usaha topeng monyet. Kalau ditutup apa pemerintah mau kasih kerja buat kita?" katanya sembari pamit ke Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur.
(aan/gah)