"Saking banyaknya angkot yang dikelola secara perorangan, pengusaha jadi masa bodoh dengan manajemen dan lebih mementingkan setoran," terang Ketua Organda DKI Jakarta, Sudirman, kepada detikcom, Senin (19/9/2011).
Manajemen pengelolaan yang buruk dinilai menjadi penyebab banyaknya tindakan kriminal di dalam angkot. Sudirman mengatakan, seharusnya segala fasilitas yang menyangkut kepentingan publik harus dikelola secara profesional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sudirman juga mengeluhkan banyaknya jumlah angkot yang beroperasi di Jakarta saat ini. Sistem ini menurutnya harus segera dibenahi.
"Aduh saya sampai gak bisa menghitung, karena banyak yang dikelola individual. Kami harus akui, dan jujur bahwa ini memang yang harus kita benahi," jelasnya.
Menekan angka kriminalitas di angkutan umum, lanjut Sudirman, bukan sebatas menindak angkot berkaca hitam. Dikatakannya, jika tidak ada sanksi tegas pada pengusaha yang lalai tentu tindakan itu hanya menjadi tindakan reaktif.
"Jadi bukan berarti dengan razia kaca gelap itu bisa mengurangi kriminalitas. Ini memang harus dituntaskan dari akar," tambahnya.
Untuk menindaklanjuti masalah ini, Organda kata Sudirman, akan segera melakukan pertemuan dengan para pengusaha angkot, Dishub DKI dan Polda Metro Jaya. Pertemuan ini bertujuan untuk mencari solusi dan memberi pencerahan pada pengeolala agar angkot menjadi angkutan yang aman dan memberikan jaminan untuk penumpang.
"Kami sedang melakukan satu rencana untuk mengadakan satu pertemuan dengan pengusaha angkot bersama unsur regulator. Kita akan melakukan tatap muka untuk memberikan pencerahan. Tapi tepatnya kapan, belum tahu karena kan kita harus mengontak semua pengusaha dan itu tidak mudah karena banuak sekali," terangnya.
(lia/gun)











































