"Yang menggerogoti popularitas SBY itu para pembantunya di kabinet, yang banyak tidak perform," kata Wakil Ketua DPR, Pramono Anung, saat dihubungi detikcom, Senin (19/9/2011).
Selain itu, menurut Pramono, kasus dugaan korupsi M Nazaruddin yang hingar bingar dalam 3 bulan terakhir, juga turut memberi kontribusi melorotnya popularitas SBY. "Suka tidak suka, itu pasti berdampak besar," kata politikus PDI Perjuangan ini.
Pramono kembali menyayangkan kepemimpinan SBY saat ini yang menurutnya tidak bisa memanfaatkan momentum stabilitias ekonomi Indonesia, di saat negara-negara lain justru terpuruk.
"Padahal periode ini kondisi lebih baik dibanding periode lalu saat dengan Pak JK, kondisi sedang krisis 2008. Tapi sayangnya sekarang tidak termanfaatkan dengan baik," ujar mahasiswa program doktor Komunikasi Politik Unpad ini.
Karenanya, kata Pramono, Presiden perlu melakukan lompatan momentum dari keadaan yang ada, salah satunya dengan mengevaluasi peforma para pembatunya. Jika terjadi reshuffle, Pramono berharap, hendaknya itu dilakukan tidak berdasar hitung-hitungan politik.
"Harus berdasarkan ukuran kinerja. Pasti rakyat mengapresiasi," ujarnya.
Seperti diberitakan, hasil riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap pemerintahan Presiden SBY turun tinggal 37,7 persen. Ada sejumlah isu yang menjadi penyebab, termasuk masalah di 8 kementerian yang ikut mempengaruhi.
Tingkat kepercayaan itu menurun 15 persen. Pada Januari 2010, SBY masih berada di angka aman 52,3 persen. Dalam perhitungan LSI, angka 37,7 dianggap tidak aman. Korupsi dan skandal selingkuh menjadi salah satu penyebab.
(lrn/lrn)











































