"Ada sejumlah alasan objektif yang kami mengerti sebagai penyebab penurunan itu. Sebagian karena faktor eksternal dan sebagian lagi karena faktor internal," kata Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik, Daniel Sparringa, saat dihubungi wartawan, Minggu (18/9/2011).
"Kami membereskan yang di dalam, membenahi pekerjaan rumah, dan mencuci yang kotor," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami yang di dalam akan lebih seirama dengan derap langkah yang di luar. Tidak ada yang terlambat karena semua ini memang harus dilalui," ujarnya.
Namun, katanya, semua orang juga harus tahu bahwa yang diperlukan sekarang adalah kontinuitas, bukan jalan pintas. "Berhenti berpikir bahwa ada jalan mudah untuk sebuah transformasi yang sangat mendasar, yang cakupan dan jangkauannya melampaui ruang negara dan pasar," ujarnya.
"Masyarakat juga harus berubah dalam cara pandang dan orientasi. Optimis, berpikir positif, dan kritis adalah kombinasi yang konstruktif," kata Sosiolog dari Unair ini.
Seperti diberitakan, hasil riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap pemerintahan Presiden SBY turun tinggal 37,7 persen. Ada sejumlah isu yang menjadi penyebab, termasuk masalah di 8 kementerian yang ikut mempengaruhi.
Tingkat kepercayaan itu menurun 15 persen. Pada Januari 2010, SBY masih berada di angka aman 52,3 persen. Dalam perhitungan LSI, angka 37,7 dianggap tidak aman. Korupsi dan skandal selingkuh menjadi salah satu penyebab.
(lrn/lrn)











































