"Anggap kasus pemerkosaan seperti ini sama pentingnya dengan kasus politik. Dulu tahun 1998 banyak kasus pemerkosaan. Kasusnya tidaK selesai karena dianggap tidak penting," kata juru bicara Perempuan Aksi Menolak Perkosaan, Faidza Mardzoeki.
Hal itu disampaikan dia di sela-sela aksi yang menyatakan rok mini bukan pemicu pemerkosaan di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (18/9/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ada pejabat publik yang malah mengutuk korban, pelakunya akan terus bergentayangan," sambung Faiza.
Untuk mengantisipasi pemerkosaan pada perempuan di transportasi umum, harus ada kebijakan yang komprehensif. Penyelesaiannya tidak bisa satu per satu misalnya hanya dengan membuat gerbong khusus perempuan di KA.
"Dengan peristiwa di angkot ini, kebijakan itu tidak menjawab karena pelakunya justru sopirnya. Penyelesaian tidak satu per satu, tetapi harus komprehensif," lanjut Faiza.
Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pada Jumat 16 September lalu, menyinggung perempuan yang mengenakan rok mini di angkot. "Bayangkan saja kalau orang naik mikrolet duduknya pakai rok mini, kan agak gerah juga," ucap pria yang akrab disapa Foke itu.
Pernyataan yang dilontarkan sembari bercanda ini dinilai menyudutkan korban pemerkosaan. Foke lantas meminta maaf atas ucapannya yang rawan salah tafsir.
"Saya minta maaf bahwa pernyataan saya sebelumnya rawan salah tafsir. Saya sama sekali tidak bermaksud melecehkan kaum perempuan," ujarnya.Β
Pria berkumis ini mangatakan dirinya mengutuk aksi pemerkosaan dan berharap pelakunya dihukum seberat-beratnya.
(anw/vit)











































