"Saat ini sudah musim kemarau, jumlah persediaan air tentu lebih sedikit. Namun, Pulau Jawa paling beresiko terkena bencana kekeringan, karena konversi lahan yang dilakukan secara besar-besaran," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho melalui siaran pers yang diterima detikcom, Minggu (18/9/2011).
Menurutnya, perubahan pengunaan lahan di Jawa telah berlangsung sejak abad 19 hingga sekarang. Luas hutan yang tersisa kurang lebih 23 persen, yaitu 7 persen hutan lindung dan 16 persen hutan produksi. Rata-rata konversi lahan pertanian juga terus berlangsung dan semakin meningkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menilai, ke depannya pengelolaan sumber daya air akan menghadapi kendala yang jauh lebih berat. Kebijakan penyediaan air di masa mendatang juga akan sangat ditentukan oleh jumlah penduduk dan kesejahteraan rakyat Indonesia pada saat itu.
"Konflik antar masyarakat untuk berbagai kebutuhan air makin sering terjadi. Di samping akibat dampak pencemaran karena terlampauinya daya dukung sumberdaya air yang ada," tutupnya.
(mok/mok)











































