Diselenggarakan oleh Duta Besar RI Athena dan Ny. Anita Rusdi, upacara tradisional anak turun tanah ini dihadiri 100 undangan terdiri dari para Duta Besar negara sahabat dan istri serta anggota Women International Club, Athena.
"Tedhak Siti adalah salah satu upacara tradisional keluarga di Jawa. Makna keseluruhannya adalah untuk mengajarkan konsep kemandirian pada anak. Upacara ini kini sudah langka," ujar Dubes Ahmad Rusdi dalam sambutannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dubes juga berharap upaya ini dapat meningkatkan people-to-people contact, yang bermuara pada peningkatan kerjasama di berbagai bidang, baik politik, ekonomi, terutama di lingkungan sosial dan budaya kedua pihak.
Pelaksanaan Tedhak Siti berlangsung di gazebo halaman belakang Wisma Duta, 9/9/2011, yang semarak dihiasi rangkaian bunga dan benda-benda kerajinan dari berbagai daerah di Indonesia. Subyek upacara adalah Altair Rahman Fatah (8 bulan).
Sebelumnya diperkenalkan peralatan yang digunakan. Para tamu terlihat heran dan bertanya- tanya, ketika pembawa acara menunjukkan kurungan ayam besar terbuat dari bambu sebagai salah satu perlengkapan upacara.
Selain itu juga ada jadah bubur terbuat dari bahan ketan dengan 7 warna, tangga dari tebu sebanyak 7 tingkat, bokor berisi banyu gege (air dicampur bunga setaman yang telah didiamkan dari malam hingga pagi hari), tongkat tebu yang diikat bersama ayam panggang dan pisang, serta tumpeng kuning dan putih.
Prosesi Tedhak Siti diawali dengan membimbing anak menapaki jadah 7 warna, yang telah disusun berdasarkan warna dari gelap ke terang. Kemudian anak diarahkan oleh kedua orangtua untuk menaiki tangga terbuat dari tebu.
Selanjutnya anak bersama ibu kandung masuk ke dalam kurungan ayam yang telah dihiasi dengan kertas warna warni dan di dalamnya terdapat alat tulis, uang, buku, dan benda-benda lain, yang menjadi simbol cita-cita dalam kehidupan.
Si anak dibebaskan untuk mengambil salah satu dari barang-barang yang tersedia. Barang yang dipilih sang anak nantinya merupakan gambaran dari kegemaran dan juga pekerjaan yang diminatinya kelak setelah dewasa. Pada upacara ini si anak ternyata memilih cermin.
Prosesi selanjutnya adalah mencuci kaki anak dengan banyu gege. Setelah itu orangtuanya memakaikan pakaian baru dengan harapan agar si anak tetap sehat, membawa nama harum bagi keluarga, mempunyai kehidupan layak, makmur dan berguna bagi lingkungan agama, bangsa dan negara.
Dengan dibimbing oleh orangtuanya, si anak kemudian memegang tongkat terbuat dari batang tebu. Tahap ini melambangkan agar kelak anak meraih kehidupan makmur ketika menjadi dewasa.
Prosesi terakhir yaitu sebar udik-udik berupa beras kuning bercampur dengan uang logam, yang ditaburkan oleh nenek dan kakek dari anak kepada para tamu. Makna prosesi ini menggambarkan agar si anak kelak menjadi orang dermawan dalam lingkungan keluarga dan masyarakatnya.
Upacara berlangsung dengan khidmat diiringi alunan gending Jawa, sehingga para hadirin terlihat turut merasakan kesakralan dan kebahagiaan yang melingkupi acara tersebut. Mereka nampak sangat menikmati dan ikut bersemangat saat dilibatkan dalam prosesi sawer.
Ketua Women International Club menyampaikan kekagumannya atas keunikan upacara ini. Ia juga merasa senang karena dapat menyaksikan salah satu upacara tradisional Indonesia, yang tidak ditemuinya dalam budaya Yunani.
Di akhir acara, para tamu dipersilakan untuk mencicipi hidangan khas Indonesia seperti somay, sate, opor ayam, dan aneka jajanan pasar, yang telah disiapkan oleh Dharma Wanita Persatuan KBRI Athena.
Pada saat kepulangan, para tamu mendapat cenderamata berupa mainan anak-anak yang didatangkan dari Indonesia.
(es/es)











































