Kenyataan seperti ini masih tampak di tengah belantara Ibukota Jakarta. Sebuah sekolah Akreditasi A yang berdiri di tengah pemukiman warga terlihat kumuh.
Memasuki sekolah, sebuah ruang terlihat semerawut bekas runtuhan atap gedung. Buku, foto Ki Hajar Dewantara, dan beberapa bangku tertutup debu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum pula tersentuh renovasi, satu ruang lagi di pojokan sekolah atapnya doyong, bisa dibilang sejengkal menyentuh ubin sekolah. "Kalau yang itu kelas 6A dan UKS," ujarnya.
Sebenarnya, sekolah tersebut pernah dikunjungi oleh Wakil Gubernut DKI Jakarta Prijanto, 26 Januari 2011 lalu. Namun, kunjungan tinggalah kunjungan. Atap sekolah tetap dalam kondisi kopong dan malah bertambah satu kelas lagi yang terancam rubuh.
Supriyadi mengatakan, atap rubuh Senin (12/9) malam lalu. Suara gemuruh terdengar dari kediaman Supriadi yang berada di dalam komplek sekolah. Agar tidak merambat, atap yang hampir menyentuh tanah itu disangga sebatang kayu.
Menurut Supriadi, SDN 06 Malaka Jaya selalu masuk usulan untuk direnovasi setiap tahunnya. Namun, nyatanya tidak pernah usulan tersebut terealisasi. Bahkan, untuk menambal tembok yg keropok, "Kepala sekolah sendiri yang ngeluarin uang," tutur Supriadi.
Sekolah ini hanya memiliki 6 ruang kelas dan 1 mushola. Dari enam ruang kelas itu, dibagi lagi menjadi ruang perpustakaan, laboratorium, dan juga UKS.
"Sekarang murid kelas 6 yang tidak ada kelas belajar di mushola 7x8 meter," ujarnya.
Rizki menuturkan dirinya berharap pemerintah segera membenahi ruang belajar. "Di mushola enak, tapi lebih enak belajar di kelas," kata Kiki, sapaan akrab Rizki.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur, Abdul Rasyid, saat dikonfirmasi enggan bertutur banyak. "Saya harus koordinasi dulu," kata Rasyid singkat dan menutup telepon.
(ahy/ape)










































