Sulitnya Membudayakan Jalan Kaki di Jakarta

Sulitnya Membudayakan Jalan Kaki di Jakarta

- detikNews
Jumat, 16 Sep 2011 18:14 WIB
Sulitnya Membudayakan Jalan Kaki di Jakarta
Jakarta - Polusi dan panas terik banyak menjadi alasan warga Jakarta untuk enggan berjalan kaki daripada meninggalkan kendaraannya. Bila satu orang saja yang enggan, barangkali tidak masalah. Namun bila menjadi keenggaanan massal, maka yang terjadi adalah kesemrawutan.

“Seperti di Glodok Plasa dan Lindetevs, itu parkir kosong. Tetapi lebih suka parkir on the street alasan kepraktisan, cepat sampai. Tapi jadinya semrawut,“ kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono saat mengkampanyekan 'Park(ing) Day' di jalan Agus Salim, Sabang, Jakarta Pusat, Jumat (16/9/2011).

Sebelumnya, Dishub pernah mempraktikkan penutupan jalan untuk kendaraan yakni di Pasar Baru. Namun hasilnya tidak maksimal karena ada protes dari pemilik toko maupun makin banyaknya pedagang kaki lima (PKL).

“Harusnya seperti di Ginza, Tokyo ada area yang ditutup dan khusus untuk pejalan kaki. Kita pernah praktikkan di Pasar Baru tapi mendapat protes. PKL juga makin banyak. Kita buka lagi, sekarang kita tutup lagi,“ tukas Pristono.

Tidak kendor dengan keengganan masyarakat tersebut, sebuah LSM yang berkecimpung dengan masalah-masalah perkotaan, Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), menyodorkan ide serupa namun berbeda segmen. Bila sebelumnya dikawasan bisnis, kali ini ajakan berjalan kaki dikampanyekan di area bekas wisata kuliner Sabang.

Meskipun sudah tidak resmi lagi sebagai kawasan wisata kuliner, sisa-sisa tempat nongkrong, kafe maupun restoran masih banyak tersisa di Sabang. Jalan Sabang yang kini bernama jalan Agus Salim membentang dari belakang pusat belanja Sarinah hingga jalan Kebon Sirih.

Tidak heran, kampanye ITDP mencoba ide baru, bahwa pedestrian sangat menarik untuk menikmati kota dengan berjalan kaki atau menghabiskan secangkir kopi.

“Supaya nuansa kota manusiawi perkembangannya. Di Jalan Sabang, 78 persen wilayah pedestrian justru digunakan buat lahan parkir,“ kata salah satu aktivis Ratna Yunita.

Sebuah kafe di jalan Sabang yang merelakan lahan parkirnya untuk area taman, Kopi Tiam Oey menyatakan tidak terganggu. Bahkan, dengan model yang tengah disosialisasikan tersebut, pelanggan merasa lebih nyaman.

“Secara estetika sangat happy. Pelanggan lebih senang karena view-nya bagus,“ kata GM Kopi Tiam Oey, Wasis Gunarto.

Bahkan dia berharap, keputusan kafe-nya meniadakan area parkir di depan lokasi usaha ditiru oleh tempat lain di jalan Sabang.

“Saya harap begitu, yang lain juga. Dulu ada kawasan wisata malam kuliner di sini, dan semua suka. Banyak orang lewat,“ tandasnya.

Bila sudah ada niat baik, tinggal pemerintah membuat kebijakan pendukung. Misalkan dengan membangun area parkir yang cukup luas di ujung jalan, kemudian warga menikmati jalanan dengan berjalan kaki.

“Ke depannya begitu, membangun budaya jalan kaki. Sehat dan bisa bikin langsing,“ tukas Pristono.

(Ari/lrn)


Berita Terkait