Kejadiaan naas ini dialami Mamah Sadiah (50). Ia saat itu hendak bepergian ke rumah sang anak di kawasan Cirendeu, Tangerang Selatan.
Mamah Saidah menumpang angkutan umum 106 jurusan Lebak Bulus-Parung warna biru tua pada Kamis 15 September 2011 sekitar pukul 10.30 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam tas itu. Cuuut...cuuut....!
"Saya khawatir itu ular. Lalu, saya tanya apaan tuh?" kata Mamah Saidah kepada detikcom.
Si lelaki itu lalu bercerita. "Saya bawa burung, adik pesan 3 bulan. Saya dari pelabuhan. Ini burung saya bawa karena takut diambil petugas pelabuhan," kata Mamah Saidah menirukan ucapan lelaki itu.
Penumpang lelaki lainnya menimpali dan meminta pria itu membolongi kertas agar burung yang dibawanya bisa bernafas.
Tawar menawar burung berkicau kemudian terjadi di angkot itu. Sesekali burung itu, menurut pendengaran Mama Saidah, menyanyi sebuah lagu pujian. Lantas seorang pria melongok ke dalam tas plastik.
"Dia bilang ini burung bagus. Saudara saya beli Rp 8.250.000. Boleh tidak saya tukar dengan gelang 10 gram untuk istri saya yang baru saya beli," cerita Mamah Saidah.
"Gelangnya mana?" tanya si pemilik burung.
"Di rumah," jawab pria yang menawar tadi.
Tetapi tawaran itu ditolak si pemilik burung.
Tawar menawar sengit terjadi lagi. Pria lainnya mencoba menawar dengan harga Rp 3 juta.
"Saya diam saja. Saya lalu ditawari tetapi saya tolak. Buat apa burung, yang senang anak saya di Pamulang," kata Mamah Saidah.
Pemilik burung memaksa dan terus menawarkan kepada Mamah Saidah. "Bu, beli burungnya, Ibu beruntung. Ibu bayar Rp 2 juta nanti saya ganti Rp 3 juta," bujuk pria yang sempat menawar burung itu.
Mamah Saidah terus menolak dan akhirnya turun dari angkot karena sudah sampai di Cirendeu. Tapi penjual burung terus memepetnya hingga Mamah Saidah seolah hilang kesadaran.
"Saya diikuti si pemilik burung dan si penawar burung. Tiba-tiba saya mengambil dompet yang saya taruh di bawah tumpukan susu dan obat. Saya bayar karena saya dipaksa dan dipepet," kata Mamah Saidah.
Setelah dibayar, pemilik burung lalu menyeberang jalan dan pergi. Mamah Saidah akhirnya menunggu si penawar burung yang berjanji mengembalikan uangnya.
"Saya tunggu agak lama juga tetapi tidak datang. Lalu, tukang gorengan bilang, Ibu ditipu kayaknya. Akhirnya saya pulang," kata Mamah Saidah yang mengaku tidak biasa membawa uang banyak saat bepergian.
Mamah Saidah yang diantarkan anaknya kemudian melapor ke Polsek Ciputat. Di sana, polisi memberitahu bahwa burung itu adalah burung sawah biasa. Merasa kesal, Mamah Saidah meninggalkan burung itu di kantor polisi.
(aan/nrl)










































