'Belanda Koloni Indonesia'

Laporan dari Wassenaar

'Belanda Koloni Indonesia'

- detikNews
Senin, 12 Sep 2011 21:26 WIB
Belanda Koloni Indonesia
Wassenaar - Tak peduli di mana. Pokoknya ini hari Negeri Belanda serasa menjadi koloni Indonesia. Aroma sate, kretek, dan rempah-rempah menyengat. Asapnya menyatu di udara dengan hingar-bingar musik dangdut.

Ribuan warga dari segala penjuru tumpah-ruah. Mobil-mobil pribadi warga Indonesia parkir di setiap jengkal tanah di sepanjang jalanan kawasan elite Wassenaar, dari sekitar residensi Duta Besar di Kerkeboslaan sampai Van der Oudermeulenlaan. Tak sejengkal tanah kosong pun luput dari pendudukan.

Polisi Belanda yang lalu-lalang berpatroli hari itu tak hirau. Pada hari biasa seharusnya mereka sudah 'royal membagi bon' alias panen menilang ratusan mobil yang parkir sembarangan itu. Sementara bus-bus penuh orang Indonesia, berjejal berdiri ala pemandangan di Jakarta, silih berganti menaik-turunkan penumpang di sisi jalan Rijksstraatweg.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alih-alih menilang, polisi Belanda justru dengan ramah menunjukkan jalan, bagi orang yang terlihat kebingungan. Situasi bersahabat di lapangan ini mungkin dapat dibaca sebagai bagian dari tanda-tanda hubungan istimewa Belanda-Indonesia, paralel dengan pernyataan Menlu Uri Rosenthal-KUAI Umar Hadi dalam resepsi diplomatik beberapa hari sebelumnya.

Hari itu warga Indonesia memang sedang bersukacita pada Pesta Rakyat, Bazaar Makanan dan Produk Indonesia di halaman seluas satu hektar Sekolah Indonesia Netherlands (SIN), Wassenaar, Sabtu (10/9/2011), dalam rangka merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-66.

Menurut KUAI kepada detikcom, lebih dari 9 ribu orang mengalir di acara tahunan yang ditunggu- tunggu itu. Bukan hanya orang Indonesia, tetapi juga Indo-Belanda, Belanda tulen, bahkan orang asing lainnya, yang ingin menikmati suasana khas Indonesia.

"Ini sesungguhnya sebuah festival yang merepresentasikan Indonesia di mata para sahabat asing. Indonesia sebagai bangsa yang beragam etnik, agama, budaya, dan bahasa terwakili dalam harmoni di sini," ujar KUAI.

Menurut KUAI, sebanyak 30 anjungan makanan dan 5 anjungan pamer produk Indonesia memeriahkan pesta rakyat berkonsep dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat itu, ditambah satu anjungan Tombola yang menawarkan hadiah-hadiah menarik.

Ada kue-kue kering, es cendol, es campur, siomay, mpek-mpek Palembang, bakso, rujak, sate, rendang Padang, nasi rames, bubur ayam, coto Makassar, aneka macam sayur dan seafood, sampai masakan-masakan daerah lainnya bahkan sampai ratusan jenis jajanan pasar.

"Saya tak mengira acaranya semeriah dan seramai ini, kayak suasana alun-alun di tanah air," celetuk Tri Asih Istiani, yang jauh-jauh datang dari Swedia, seraya menunjukkan status di Facebooknya, "Menghadiri pesta rakyat indonesia di Den Haag serasa pulang ke kampung halaman merayakan pesta kemerdekaan..."

Ani, demikian dia disapa, datang membawa 3 anaknya, dua laki-laki sudah remaja dan satu perempuan masih balita. Ditemui detikcom, ibu dan anak itu sedang menikmati sate kambing yang menurutnya sangat otentik, es campur dan rujak Sunda.

"Aduh, saya beruntung banget bisa menikmati suasana seperti ini. Di Swedia yang ginian kagak ada," imbuh Ani.

Sementara di latar belakang MC Doni 'X-Factor' Vernianto menyeru publik ala Tukul dari mana mereka berasal. Pekik jawaban bergemuruh diiringi lambaian tangan susul-menyusul, ".. Ambon, Sunda, Papua, Jawa, Minang, Batak, Betawi, Bali, Bugis, Makassar, Manado, Lombok, Dayak...,"

Musik dangdut, reggae, rock, pop, diseling musik daerah, tarian, demonstrasi pencak silat, permainan anak-anak berlangsung hiruk-pikuk dengan joged dan percakapan ribuan orang antara teman, kerabat, sejawat, penjual-pembeli.

Puluhan panitia pengamanan berlatarbelakang Maluku dan daerah lainnya hilir-mudik berbaur dengan seragam polo gelap bertuliskan 'Merdeka'. Sementara polisi Belanda terlihat melepas lelah disuguhi nasi rames, cendol dan jajanan pasar, keramahan khas Indonesia.

Saat detikcom meninggalkan lokasi menuju area parkir, musik dangdut masih mendayu-dayu penuh gairah, "Terajana, Terajana...," Penduduk sekitar, kira-kira setara kawasan Jl. Diponegoro, Jakarta, sudah maklum bahwa hari ini, yang selalu berulang setiap tahun, adalah milik bangsa Indonesia...
(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads