Pengamat: Rekonsiliasi di Ambon Belum Selesai

Pengamat: Rekonsiliasi di Ambon Belum Selesai

- detikNews
Senin, 12 Sep 2011 18:40 WIB
Yogyakarta - Pertikaian di Ambon yang terjadi saat ini menunjukkan bila proses rekonsiliasi belum selesai. Akibatnya konflik sosial kembali muncul seperti yang terjadi saat ini.

"Proses rekonsiliasi dan dialog yang dibangun pemerintah dan antar tokoh masyrakat di kalangan akar rumput belum sepenuhnya selesai," kata peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Drs Samsu Rizal Pangabean, MSc kepada wartawan di Kampus Bulaksumur, Yogyakarta, Senin (12/9/2011).

Dia mengatakan rekonsiliasi di beberapa tempat di Ambon belum tuntas. Di beberapa tempat, komunikasi antar kampung tidak berjalan dengan baik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Orang gampang sekali salah paham, akibatnya kekerasan muncul di sana-sini," kata Rizal.

Menurut dia, proses rekonsiliasi antar masyarakat masih sangat dibutuhkan. Sebab sampai saat ini antar warga masih muncul saling ketidakpahaman dan saling curiga akibat dampak trauma konflik yang pernah terjadi sebelumnya.

Staf pengajar Fisipol itu mencontohkan, masing-masing kampung yang dihuni kelompok berbeda masih saling berjaga jarak agar tidak menimbulkan konflik.

"Mereka masih selalu ekstra hati-hati. Urusan kecelakaan saja, gampang sekali berubah menjadi masalah yang lebih serius. Solusinya tokoh agama dan tokoh masyarakat harus bisa mengajak warga masyarakat untuk lebih saling berbaur, membangun dialog," katanya.

Hal senada juga dikatakan pengamat konflik internasional UGM yang juga kelahiran Maluku Dr Eric Hiarej, M.Phil. Dia mengatakan persoalan konflik di Ambon tidak lepas dari proses identifikasi yang diterima masing-masing kelompok agama terhadap isu konflik internasional.

Mereka menganggap konflik yang terjadi di kampungnya sebagai bagian dari perwujudan konflik internasional. "Beberapa kampung, sejak 30 tahun lalu sejak saya kecil sampai sekarang tetap belum berubah. Mereka menganggap kampung Kristen sebagai 'Israel' dan kampung Islam sebagai 'Palestina'," pungkas Eric.

(bgs/fay)


Berita Terkait