“Dulu tahun 1999, cukup dengan Rp 1000 Ambon rusuh. Dengan koin Rp 100, menelpon lewat telepon umum dan Ambon terbakar. Sekarang dengan SMS. Kok inetelijen dan polisi tidak mampu menyadap?“ kata sosiolog UI Tamrin Amal Tamagola di kantor KontraS, Jl Mendut, Mentang, Jakarta Pusat, Senin (12/9/2011).
Hanya saja, katanya, saat ini masyarakat sudah tidak lagi mudah diprovokasi dan efeknya cenderung terbatas. Masyarakat dianggap sudah sadar pentingnya perdamaian dan menyadari hanya menjadi korban politik saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, elite politik lokal juga telah sudah lebih dewasa. Tidak berselang lama kerusuhan meletus, sejumlah raja lokal dan pimpinan adat langsung mengeluarkan maklumat perdamaian.
“Dan itu dituruti. Raja-raja lokal masih diakui dan berwibawa. Sistem raja di tingkat lokal masih efektif seperti Raja Toleho yang mengeluarkan maklumat dan itu bagus,“ tegas pria asal Maluku ini.
(Ari/lrn)










































