Laboratorium Pancasila di Rijksstraatweg 679 Belanda

Laporan dari Wassenaar

Laboratorium Pancasila di Rijksstraatweg 679 Belanda

- detikNews
Sabtu, 10 Sep 2011 16:43 WIB
Laboratorium Pancasila di Rijksstraatweg 679 Belanda
Wassenaar - Tempat anak-anak dari beragam etnik, bahasa dan agama, bersama-sama mengembangkan toleransi dan menimba ilmu. Diharapkan ini menjadi lab Pancasila di tengah arus kuat perubahan.

Itulah Sekolah Indonesia Nederland (SIN) di Wassenaar. Di tengah derasnya intoleransi dan ketidakpercayaan pada kehidupan multikultural, anak-anak Indonesia dan asing lainnya yang sekolah di sini belajar mempraktikkan falsafah Pancasila, di samping norma-norma luhur setempat.

Seperti kegiatan bersama pada perayaan Natal dan hari raya agama lainnya, para siswa SIN selama Ramadan lalu juga saling bergotong-royong menyelenggarakan kegiatan berbuka puasa bersama. Belajar toleransi dan memelihara harmoni sejak dini.

Para siswa, muslim dan non-muslim, saat detikcom di sana terlihat mengedarkan minuman dan makanan kecil pembuka. Pada saat masuk ritual salat, mereka yang non-muslim tidak ikut. Orangtua dan wali siswa non-muslim yang juga hadir sangat mengapresiasi inisiatif ini.

Ceramah ustadz Hudalloh Ridlwan Na'iim, Lc pada pekan terakhir memotivasi siswa untuk mencari ilmu. Ilmu adalah pembeda manusia dari binatang dan mahluk lainnya.Begitu besar nilai ilmu di sisi Tuhan, sehingga orang-orang yang dijanjikan akan diangkat derajatnya adalah orang-orang berilmu.

Tapi dalam islam ilmu bukan tujuan, melainkan alat untuk mengenal dan mendekatkan diri pada Tuhan. Semakin tinggi ilmu seseorang akan semakin membuat dia lebih mengenal penciptanya.

Atase Pendidikan Ramon Mohandas mewakili KBRI Den Haag dalam acara penutupan yang merupakan rangkaian dari program Bengkel Ramadan menegaskan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat dalam menumbuhkan berbagai aspek kepribadian anak.

"Baik dari sisi kongnitif, afektif dan estetika maupun psikomotorik, sehingga mendorong tercapainya target pendidikan anak yang berkarakter Indonesia," ujar Ramon.

Bengkel Ramadan menurut Kepala SIN Wassenaar Arbayah Kumalawati, berlangsung selama empat pekan (2-26/8/2011), diawali dengan empat jam pelajaran reguler. Kegiatan bertujuan agar civitas academica belajar meningkatkan nilai-nilai moral, karakter dan kepribadian positif.

"Sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing, khususnya dalam momentum bulan puasa Ramadhan 2011 ini," terang Arbayah.

Kegiatan ini, lanjut Arbayah, diikuti oleh seluruh siswa kecuali mereka yang terpilih menjadi anggota Paskibra.

Siswa Kristen mengikuti Paket Program Kerohanian Kristiani yang dibimbing oleh Pendeta Ida Riaurika.Sedangkan siswa muslim dibimbing mengikuti paket program membaca Al-Quran, tafsir dan tajwidnya, hafalan surat-surat pendek dan doa, praktek ibadah, materi tauhid dan fiqih, kultum, kaligrafi dan kreativitas lainnya.

Penghormatan pada pilihan keyakinan para siswa yang ditegakkan SIN Wassenaar selain menyemai insan-insan berfalsafah Pancasila, juga menegakkan amanatUU Nomor 20 th 2003 Pasal 12 Ayat (1a), "Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak: mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama."

"Kita berkeyakinan bahwa dengan menyemai anak-anak Pancasila ini kelak akan tumbuh insan dewasa yang toleran,bertenggang rasa terhadap sesama yang berlain-lainan latarbelakangnya, dan menjadi penegak perdamaian," demikian Arbayah.

Saat ini tercatat ada 53 siswa dari SD sampai SMA di SIN Wassenaar. Lulusan dari SIN diantaranya diterima di Technische Universiteit Delft (TUD), Universiteit van Amsterdam (UvA), Vrije Universiteit Amsterdam (VU), Rijksuniversiteit Leiden (RUL),Universiteit Utrecht (UU),Fontys Hogeschool Eindhoven, Hogeschool Rotterdam danThe School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London.

Sebagian yang memilih melanjutkan studi di Indonesia antara lain diterima diUniversitas Indonesia (UI), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Trisakti.
(es/es)


Berita Terkait