"Anak-anak dan ibu-ibu masih cemas. Sebagian warga sudah mengungsi ke desa karena banyak warga yang tinggal di sisi sungai dan hutan," kata seorang warga bernama Hariadi kepada detikcom, Sabtu (10/9/2011).
Hariadi mengungkapkan, sebagian warga yang bermata pencaharian sebagai petani tidak berani pergi berladang. Bahkan, anak-anak sekolah juga tidak dapat melakukan kegiatannya karena masih takut akan terjadinya bentrokan susulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga Desa Gunung Baringin takut karena warga Desa Huta Tua mempersenjatai diri dengan senjata rakitan. Bunyi letusan senjata api kerap memekakan telinga mereka dan membuat situasi semakin mencekam.
"Karena warga Huta Tua itu punya senjata dan di sana, sudah tidak ada lagi penduduk laki-laki," kata dia.
Menurutnya, Desa Huta Tua kini hanya ditinggali oleh kepala desa dan penduduk perempuan. Sementara para lelaki yang membawa senapan angin, disinyalir pergi ke hutan untuk meneror warga Desa Gunung Baringin.
Bahkan Jumat (9/9) malam, sekelompok pria diduga meletuskan senjata api di tepi sungai di seberang desa. Hal ini lantas membuat warga Desa Gunung Baringin semakin ketakutan.
"Sekitar pukul 21.15 WIB (Jumat malam), ada dengar letusan. Awalnya, tembakan dari mereka, kemudian petugas membalasnya," kata dia.
Hariadi mengungkapkan, ada sekitar 4 pria yang diduga sebagai warga Desa Huta Tua saat itu. Dua pria melarikan diri ke arah hutan saat mendengar bunyi letusan senjata milik petugas.
"Sementara dua orang lagi diduga lari ke arah Desa Gunung Baringin," ujar dia.
Bentrokan antar warga ini dimulai sejak Rabu (7/9) lalu. Bentrokan dipicu perkelahian pemuda saat pentas dangdut di Desa Gunung Baringin. Saat itu, ada dua warga Desa Huta Tua yang mabuk dan mengacau di pesta tersebut.
Perkelahian pun terjadi hingga mengakibatkan warga Desa Huta Tua terluka. Namun, dua jam kemudian, pria tersebut datang dengan membawa teman-temannya. Bentrokan terjadi hingga mengakibatkan seorang warga Desa Gunung Baringin luka tembak di bawah matanya, sedang dua lainnya mengalami luka tikam.
(mei/mok)











































