"Saya sudah jelaskan lima kali pertemuan saya dengan Chandra. Saya sudah jelaskan, dua kali pertemuan saya dengan Ade. Yang melibatkan kasus apa saja, sudah saya ceritakan," kata M Nazaruddin.
Pernyataan itu dia sampaikan sebelum meninggalkan Kantor KPK, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Kamis (8/9/2011), sekitar pukul 18.30 WIB. Nazaruddin di Kantor KPK untuk menjalani pemeriksaan Komite Etik KPK yang dimulai pada kurang lebih pukul 15.00 WIB.
Berikut kutipan jawaban mantan Bendahara Umum DPP PD itu kepada wartawan yang mecegatnya di Kantor KPK.
Bagaimana pemeriksaan tadi?
Saya sudah jelaskan lima kali pertemuan saya dengan Chandra (Wakil Ketua KPK Chandra M Hamzah). Saya sudah jelaskan dua kali pertemuan saya dengan Ade Rahardja (Direktur Penindakan KPK). Yang melibatkan kasus apa saja sudah saya ceritakan.
Saya juga sudah ngomong ke Komite Etik KPK, mulai hari ini saya akan mempelajari kasus istri saya. Dua minggu ke depan akan saya usut biar jelas apakah istri saya ditetapkan sebagai tersangka sebagai balas dendam atau memang karena fakta hukum. Karena saya lihat istri saya lebih banyak tidak terlibat sama sekali, tapi urusan balas dendam karena saya membuka kasus KPK. Jadi KPK balas dendam menekan saya lewat istri saya.
Nah saya akan buka fakta ini sejelas-jelasnya. Termasuk juga nanti tentang proyek Wisma Atlet. Begitu saya dipanggil penyidik, akan saya jelaskan semuanya.
Tapi hari ini yang saya jelaskan adalah bagaimana keterlibatan Chandra dan Ade secara jelas tanpa ada yang saya kurangi dan saya tambahi. Biar masyarakat tahu dan menilai bagaimana sebenarnya pimpinan KPK. Jangan sekali-kali mendikte orang sementara dia sendiri adalah perampok juga.
Β
Saya tidak mau rekayasa terhadap kasus saya. Saya juga mau saya ceritakan semua biar media tahu dan masyarakat ikut mengawasi dan memantau apa yang terjadi pada diri saya, terhadap kasus yang direkayasa pada diri saya.
Β
Pertama soal yang tidak diekspose media massa adalah KPK menjelaskan soal Yulianis. Yulianis bukan wakil direktur tetapi direktur keuangan yang selalu berkoordinasi langsung dengan Anas.
Uang yang ke Pak Chandra?
Kondisinya bahwa uang yang ke Pak Chandra sudah saya jelaskan kepada Komite Etik. Terkait uang yang mengalir itu, kapan yang mengasih, pada proyek apa, urusannya apa, itu juga sudah sempat disupervisi KPK. Proyeknya Rp 7 triliun.
Itu proyek apa?
Itu proyek pengadaan baju hansip dan e-KTP
Setelah jawaban terakhirnya, Nazaruddin yang mengenakan kemeja putih dan celana jeans biru langsung memasuki mobil bersama tim kuasa hukumnya. Selama menjawab pertanyaan wartawan, rombongan tersebut dikawal oleh Brimob Mabes Polri.
(mok/lh)











































