"Tidak ada. Kalau dia dokter di sini pasti ada namanya. Semua dokter yang praktik di Indonesia pasti terdaftar di sini. Kedua, kalau dia mau praktik dia harus punya surat praktik. Dan untuk mempunyai surat praktik dia harus punya rekomendasi, salah satu rekomendasinya adalah kartu tanda anggota IDI," kata Ketua Umum Pengurus Besar IDI dr Prijo Sidipratomo di Sekretariat IDI, Jl Sunda, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (8/9/2011).
Hal itu disampaikan Prijo saat ditanya detikcom apakah Aisha Wardhana atau Caroline Ruhning Tyassasanti terdaftar di IDI. Bahkan Prijo juga telah bertanya ke Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), kedua nama itu juga tidak terdaftar. Namun KKI dan IDI akan menelusuri kembali data yang mereka punya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun seorang dokter merupakan lulusan sekolah luar negeri, namun yang bersangkutan harus tetap mengikuti proses adaptasi di Indonesia. "Makanya saya bilang kalau dia tidak terdaftar di dua-duanya itu pasti dokter abal-abal. Meskipun dia praktik untuk aksi relawan kemanusiaan. Dia harus tetap punya izin praktik. Karena ini kan menyangkut keselamatan pasien," tutur Prijo.
Sebelumnya saat akan menjadi relawan Aksi Cepat Tanggap, Aisha mengaku sebagai dokter bedah plastik lulusan Jepang. Namun, ACT tidak mengecek secara detil apakah Aisha memang benar-benar dokter dan background pendidikannya.
Aisha juga tidak terdaftar di Perhimpunan Dokter Bedah Plastik (PERAPI). "Oh nggak ada. Bukan anggota PERAPI," kata sekretaris PERAPI, Agnes, saat dihubungi detikcom, Selasa (6/9). Saat itu, Agnes ditanya apakah ada nama Aisha Wardhana sebagai anggota PERAPI.
(vit/fay)











































