Adalah Jimly Ashiddiqie yang mengalaminya. Pengalaman tidak menyenangkan tersebut diutarakan saat memberi kuliah umum di Ary Suta Center, Jl Prapanca, Jakarta Selatan, Kamis (7/9/2011).
Saat itu, kisah Jimly, ia sedang malaporkan akun Facebook-nya yang di-hack ke Mabes Polri. Akun Facebook-nya disalahgunakan pembajak untuk menipu berjualan lap top.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, laporan Jimly mulai dibuat berkas. Namun, saat usai pembuatan berkas, aksi pungli mulai berjalan.
“Kalau yang atas, nggak masalah. Namun saat selesai, asistennya dia (polisi) bilang pada asisten saya. Katanya, ini sudah selesai. Cuma tidak bisa di-print. Tintanya habis,“ seloroh Jimly di depan para doktor, akademisi hingga politisi.
“Asisten saya bilang ke polisi itu: 'maksudnya apa ini?' Dijawab, ya butuh uanglah buat nge-print,“ tandasnya disambut gelak tawa audiens.
Hanya saja, Jimly tidak melanjutkan ceritanya, apakah ia akhirnya memberi tips atau tidak. Dia hanya mengambil pelajaran, bahwa reformasi dan keterbukaan belum menyentuh hingga struktur kelembagaan.
“Tidak hanya di sini (Mabes Polri) tetapi di institusi lain juga begitu. Ini karena ada kesenjangan struktural. Kebebasan setelah reformasi tanpa rule of law membuat semua bekerja untuk dirinya sendiri. Kita perlu mengawal kebebasan supaya tidak kembali lagi ke masa lalu,“ tuntas Jimly.
(Ari/lrn)











































