Barcode, Soal Kreativitas
Senin, 05 Jul 2004 15:34 WIB
Den Haag - Bagaimana barcode diterapkan untuk proses pemungutan suara, padahal kertas suara bergambar lima capres-cawapres dari KPU tidak boleh 'cacat'? Ah, itu soal kreatifitas saja.Pada kertas suara yang diperoleh detikcom, kertas suara inti berisi lima pasangan capres-cawapres tetap mulus, tanpa cacat. Lalu dimana gerangan barcode-nya?Barcode itu ditempelkan pada sebuah amplop, di sudut kiri bawah. Datanya sesuai dengan data calon pemilih yang telah diverifikasi panitia. Nah, nanti kertas suara yang telah dicoblos dimasukkan ke dalam amplop yang telah ditempeli barcode tersebut. Selanjutnya saat penghitungan suara, panitia tinggal that-thit-that-thit, men-scan barcode layaknya kasir di mal-mal.Hanya saja, penerapan sistem barcode ini baru pada taraf mengefisienkan kerja, kontrol akurasi pemilih, dan menghindari fraude. Untuk sampai pada akurasi data capres terpilih belum memungkinkan, karena wewenang menempelkan sesuatu pada lembaran pasangan capres ada pada KPU pusat.Ke depan, sistem kuno dengan cara coblos yang tidak efisien, rawan human error dan manipulasi, mestinya sudah harus ditinggalkan. Kalau memang mau komputerisasi betulan, KPU seharusnya menerapkan sistem barcode ini.Caranya, KPU menyediakan kertas suara bergambar capres (atau lambang partai untuk caleg) yang masing-masing sudah memuat barcode berlapis segel plastik. Calon pemilih tinggal membuka segel itu di bilik suara. Klaar. Para saksi, saat penghitungan suara, tinggal memelototi segel barcode. Jika segel barcode calon X yang terbuka, berarti itulah calon yang dipilih. Jika segel dibuka lebih dari satu, berarti tidak sah.Selanjutnya untuk pemasukan datanya tinggal men-scan, yang dijamin serba mudah dan cepat. Jika scan ngadat, panitia bisa memasukkan kode alternatif (angka) di bawah barcode tersebut. Mudah dan efisien, semudah kasir mal men-scan produk yang dibeli konsumen. Tidak ada lagi ribut-ribut atau konflik soal tembus paku karena saat mencoblos kertas suara terlipat, posisi coblosan yang discutable, atau kertas suara dipersoalkan yang sebelumnya sudah bolong duluan karena persoalan teknis. Berapa kertas suara yang mubazir dibuang karena masalah ini?Pepatah Belanda mengatakan, waarom moeilijk doen als het ook makkelijk kan? Mengapa melakukan sesuatu dengan sulit dan ribet, jika dengan cara mudah juga bisa?
(es/)











































