"Itu pernyataan yang menunjukkan pemerintah lepas tangan, tidak mau bertanggung jawab," terang pengamat transportasi dari Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna, kepada detikcom, Rabu (7/9/2011).
Yayat juga mengkritik pernyataan Menhub yang mengatakan apakah pengemudi harus diberi pil ekstasi agar tidak mengantuk. Menurutnya, pernyataan itu seperti guyonan yang merendahkan kondisi para korban kecelakaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Yayat melihat problem mudik dan balik saat musim lebaran harusnya bisa diantispasi jauh-jauh hari oleh pemerintah. Karena tradisi ini ada kegiatan rutin dari tahun ke tahun.
"Apa gunanya anggaran besar kalau penyediaan angkutan umum baik darat, udara dan laut belum memadai. Begitu pula dengan kondisi infrastruksturnya yang belum mendukung. Ya mau tidak mau masyarakat memilik yang paling efisienlah," tambahnya.
Dia juga menyarankan agar pemerintah tidak seperti kebakaran jenggot saat menghadapi musim libur mudik. Diharapkan pemerintah juga memperhatikan masalah-masalah kecil yang dihadapi pemudik.
"Jangan sebulan lebaran baru sibuk perbaiki jalan. Dan itu yang diperhatikan jangan cuma jalan nasional atau jalan utama aja. Perhatikan juga jalan alternatif yang sekarang lebih dipilih masyrakat," ujar Yayat.
"Karena kita tidak ingin kecelakaan itu menjadi seperti tradisi juga saat Lebaran," tandasnya.
(lia/lrn)










































