Imbauan ini menyusul berkurangnya produksi air baku di tiga sumber pengelolaan air baku atau water treatment plan (WTP) milik PDAM Tirta Musi Palembang. Akibat debit air di Sungai Musi yang terus menyusut, berdampak pada penurunan produksi air hingga 50 persen.
Pantauan detikcom langsung di pusat pengelolaan air baku yang terdapat di Kelurahan 1 Ilir, Sungai Ogan, dan di Karanganyar, masing-masing indikator (alat ukur) level air menunjukan posisi air berada di garis 0,50 atau turun setengah meter dari garis aman. Seperti yang terlihat di pusat pengelolaan air baku Karanganyar, debit air berada di garis 0,50 meter, yang artinya produksi air hanya 330 liter per detik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menormalkan produksi air kembali menjadi 600 liter per detik, PDAM terpaksa memakai empat pompa. Dengan pola seperti itu, mau tidak mau biaya produksi menjadi lebih mahal. Padahal produksi yang dihasilkan juga tidak memenuhi target, hanya di angka 580 liter per detik.
"Cara ini terpaksa dilakukan untuk menstabilkan suplai air ke pelanggan. Kalau tidak pakai pompa yang banyak bagaimana bisa menghisap air dari Sungai Musi. Kalau sudah begitu, dapat dipastikan produksi air bersih turun 50 persen dan warga akan mengalami krisis air bersih," kata Direktur Teknik PDAM Tirta Musi Palembang Stephanus MM kepada wartawan, Selasa (6/9/2011).
Sampai sejauh ini, PDAM masih mengandalkan Sungai Musi sebagai sumber air baku. Makanya, begitu permukaan air di hulu sungai mengalami penyusutan, maka secara otomatis level air di WTP mengalami penurunan.
(tw/lia)










































