"Justru itu kita kesulitan. Kalau ada alamat, KTP bisa. Kalau teman-teman bisa bantu, dalam 5 menit kita bisa jawab," kata Menkum HAM Patrialis Akbar di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (6/9/2011).
Patrialis mengaku pihaknya kesulitan dengan data diri Aisha. Kalau seandainya ada data spesifik mengenai Aisha pihaknya mudah melakukan identifikasi termasuk ke Qatar.
"Itu Aisha kan banyak, jadi kita belum tahu. Identitasnya baru kita deteksi," jelasnya.
Sebelumnya dalam percakapan lewat BBM dengan pihak Aksi Cepat Tanggap (ACT), Aisha mengaku terbang ke Somalia dari Jakarta lewat Singapura kemudian ke Qatar. Nah, kemudian Aisha -yang menurut orang yang mengaku putrinya sedang hamil 6 bulan- mengaku pergi ke Nairobi untuk melanjutkan perjalanan ke Mogadishu, Somalia.
Saat di Kota Garissa, Aisha mengaku didatangi sekelompok pria bersenjata. Saat itu 31 Agustus, pria bersenjata itu disangka Aisha, pengawal yang akan melindungi untuk masuk ke Somalia. Garissa sebelumnya menjadi titik keberangkatan tim ACT untuk masuk ke Somalia.
"Dia mengaku dipukul, kemudian terkena tembak di bahu. Kemudian dibawa keluar Kenya. Sampai ditemukan di Johannesburg, Afsel, Minggu malam," terang pihak ACT melalui Direktur Eksekutif Komite Indonesia untuk Solidaritas Somalia (KISS), Syuhelmaidi Syukur, saat dihubungi detikcom, Selasa (6/9).
Kabar hilangnya Aisha di Somalia beredar lewat Twitter pada Minggu (4/9/2011) malam. Pihak ACT melalui pesan BBM dari Aisha yang saat itu mengaku dipegang local guide Charles Etoundi, juga mendapat informasi serupa. Namun, informasi kemudian yang berkembang simpang siur.
Berita hilangnya Aisha memang misterius. Kronologi bagaimana dia diculik di Somalia, penuh kejanggalan. Salah satunya, saat ini Aisha tiba-tiba berada di Qatar, sebelum sebelumnya ditemukan di Johannesburg. Padahal, dia mengaku tertembak di bagian bahu.
Benarkah memang Aisha pergi ke Somalia? Kalau tidak, di mana relawan lepas Aksi Cepat Tanggap (ACT) itu berada?
(ndr/fay)











































