Sarkem, yang menjanda sejak 1987 karena ditinggal mati suami, tidak menyia-nyiakan kesempatan begitu tawaran menjadi badut di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) itu tiba.
"Daripada nganggur, begitu dengar-dengar dari tetangga bisa bekerja di Taman Mini, saya langsung mau " kata Sarkem di TMII, Jakarta Timur, Sabtu (3/9/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau anak yang takut, tidak saya gendong," kata Sarkem yang tinggal di rumah kecil di Cipinang ini.
Dari TMII, Sarkem tidak mendapat upah tetap. Dia hanya diberikan akses masuk gratis ke kawasan miniatur Indonesia itu. Penghasilan ia dapatkan dari uang tips para pengunjung yang merasa terhibur atau sehabis berfoto bersama.
"Dapat seribu, dua ribu habis foto, Alhamdulillah. Uang dikumpulkan dulu oleh teman-teman badut yang satu kelompok, setelah itu dibagi rata," kata Sarkem.
Untuk kostum kelinci yang ia kenakan, Sarkem dulu juga harus membongkar celengannya. Meski tidak berpenghasilan tetap, Sarkem mengaku bersyukur. Di musim liburan ini rata-rata ia bisa membawa pulang Rp 50 ribu per hari. Dia mengaku bersyukur bisa diberi kesempatan menghibur anak-anak sambil bekerja.
"Sehabis bekerja urat-urat saya seperti dicabut, tapi saya senang sekali bisa membuat ketawa anak-anak," katanya yang terus kangen cucunya itu.
Meski mengaku senang bisa membauat tertawa anak-anak, pengalaman Sarkem menjadi badut tak selamanya diwarnai keceriaan. Pernah Sarkem terjatuh karena belum terbiasa dengan kostum kelinci yang baru dibelinya saat itu. Dia pun ditertawakan para pengunjung.
"Saya belum terbiasa melihat dengan memakai kostum, dan saya terjatuh. Pas mau bangun, saya malah menginjak kostum dan terguling," katanya menambahkan kostum itu tidaklah ringan. "Tapi itu kenangan manis," ujarnya sambil tersenyum.
Di TMII, tidak hanya Sarkem yang berusia senja dan menjalani profesi sebagai badut penghibur. Dia menyebut ada rekannya yang sudah berusia 71 tahun. Humas TMII Suryandoro mengatakan, pihaknya memang sengaja memberdayakan para lansia, gelandangan dan pengemis yang berada di sekitar kawasan wisata itu.
"Kami kan yayasan sosial, jadi harus punya tanggung jawab sosial juga," kata Suryandoro tentang Yayasan Harapan Kita, pengelola TMII, yang dimiliki Siti Hardianti Rukmana itu.
Di pusat kebudayaan itu, Sarkem dan rekan-rekannya juga tidak hanya menemai pengunjung untuk berfoto-foto. Mereka juga diajari kesenian daerah untuk manggung di sebuah pertunjukan, juga dengan kostum badut masing-masing.
(lrn/irw)











































