"TKW asal Bapangsari, Bagelen, Purworejo (Jawa Tengah) ini telah berada di Libya selama 10 bulan, di mana dia bekerja kepada salah seorang dari kalangan dekat mantan Pemimpin Libya Muammar Khadafi," kata staf KBRI Tunis, M Yazid, kepada detikcom, Rabu (31/8/2011).
Menurut Yazid, Pajrihah bekerja pada majikan yang pro Khadafi. Sekitar akhir Februari dan awal Maret 2011, majikan laki-laki Pajriyah meninggalkan rumahnya dan ikut bergabung dengan pasukan pro Khadafi. Selama konflik, majikannya baru pulang dua kali, yaitu sekitar bulan Juni dan di awal Ramadan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak mudah bagi Pajriyah dan majikannya untuk sampai di Tunisia. Karena situasi yang tidak memungkinkan untuk keluar dari Libya lewat jalur biasa, mereka mengambil jalan memutar menuju kawasan pegunungan barat. Rombongan majikan Pajriyah juga melakukan perjalanan pada malam hari supaya aman. Siang harinya, mereka bersembunyi di rumah kerabat di salah satu kota yang dilewati.
"Mereka kemudian berhasil meninggalkan Libya setelah melakukan perjalanan selama hampir 2 hari 2 malam. Rombongan melewati jalur pegunungan di kawasan Sahara dan akhirnya tiba di perbatasan Tunisia pada subuh hari Sabtu, 25 Agustus," kata Yazid.
Yazid menambahkan, KBRI Tunis berhasil melacak keberadaan Pajriyah berkat informasi yang diperoleh dari otoritas imigrasi di pos perbatasan Tunisia-Libya. Setelah melakuakan penelusuran, KBRI Tunis berhasil menghubungi majikan perempuan Pajriyah dan meyakinkannya agar melepas Pajriyah ke tangan KBRI Tunis.
"Pajriyah kini dapat merasakan suasana Lebaran Idul Fitri dengan tenang, setelah sebelumnya selalu diliputi kecemasan, mengungsi dari satu rumah ke rumah lainnya, dan dari satu daerah ke daerah lainnya karena takut ancaman perang," ungkap Yazid.
(irw/irw)











































