Arsani tidak selalu bisa berangkat mudik ke Ciamis, Jawa Barat. Masalah dana menjadi faktor ia tak bisa merasakan nikmatnya merayakan hari raya bersama keluarganya.
"Gak bisa mudik mas, buat uang sehari-hari saja sudah ngepas," keluh Bu Sani saat ditemui detikcom, di Monas, Jakarta, Senin (29/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sani sehari-hari hanya bisa mengumpulkan uang sekitar Rp 30 ribu. Untuk mendapatkan uang lebih, ia hanya bisa berharap dari sumbangan pengunjung. Meski jumlahnya tak tentu, Sani juga mengaku pernah beberapa kali mendapat uang dari warga yang datang.
"Tahun 2008 lalu saya banyak sekali mendapat sumbangan dari pengunjung, kalau dikumpulkan bisa mencapai Rp 300 atau 400 ribu. Kalau tahun ini saya dapat segitu, pasti saya mudik ke Ciamis," harap Sani.
Selain Arsani, momen mudik juga tidak bisa dirasakan oleh Wijananto. Pria asal Lamongan ini mengaku tidak bisa mudik karena harus mencari rezeki tambahan saat malam Takbiran nanti.
Dirinya tidak bisa mudik, dengan alasan malu. Menurutnya, jika mudik ke kampung halaman tanpa membawa bingkisan untuk sanak familinya di Lamongan, hal itu menandakan dia kurang sukses di Jakarta.
"Makanya saya cari rezeki tambahan di Monas dengan menjaga WC umum. Soalnya, pas malam takbiran saya bisa mengumpulkan uang lumayan banyak," jelas Wijananto.
Kini, Arsani dan Wijananto berharap bisa mendapat rezeki tambahan dari pengunjung Monas. Mereka juga ingin merasakan momen mudik seperti warga Jakarta pada umumnya.
(mok/mok)











































