Pantauan detikcom di Stasiun Senen, Senin (29/8) dari pagi sampai sore hari, tampak ratusan orang bertahan di halaman Pasar Senen. Banyak dari mereka yang tiduran dengan membentangkan kertas koran sebagai alas.
Jumlah para penumpang tampak tak berkurang ketika memasuki sore hari. Saat petugas stasiun memanggil para penumpang yang sudah memiliki tiket untuk masuk pun, mereka bergeming.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa yang menimpa Sukardi tersebut juga dirasakan Andi Suherno, calon pemudik asal Sukoharjo, Jawa Tengah. Suhardi mengatakan, dirinya sudah berupaya membeli tiket kelas ekonomi sejak Jumat kemarin.
"Saya sih yang penting pulang secepatnya. Sudah bosan menunggu di stasiun," kata Andi.
Apa yang menimpa Sukardi dan Andi ini adalah imbas dari program pengetatan penjualan tiket yang digalakkan mulai tahun ini. PT KAI hanya menjual tiket satu gerbong hanya dibatasi 150 penumpang. Begitu juga dengan jadwal keberangkatan kereta. Setiap harinya, pihak stasiun hanya memberangkatkan 19 kereta reguler dan enam kereta tambahan.
"Tahun ini, kami benar-benar ketat membatasi jumlah penumpang. Untuk KA ekonomi, sesuai aturan, toleransinya hanya 50 persen dari jumlah tempat duduk. Untuk bisnis hanya 25 persen toleransinya. Jadi penumpang yang ke sini itu seharusnya sudah memiliki tiket karena kami membuka penjualan sejak tujuh hari sebelum keberangkatan kereta ekonomi," kata Kepala Humas PT KAI Daop I Mateta Rizalulhaq di Stasiun Senen.
Pada tahun lalu, kendati sudah ada peraturan pembatasan penumpang ekonomi, pada praktiknya tingkat isian gerbong mencapai lebih dari 150 persen. "Penumpang tahun ini bisa menurun hingga 13 persen," kata Mateta.
(fjr/mad)










































