Kawat diplomatik berkode 09JAKARTA1579 tertanggal 18 September 2009 menceritakan momen mudik Lebaran. Sifat kawat diplomatik ini santai-santai saja dengan tajuk, 'Liburan Eid (Idul Fitri) di Indonesia, Eksodus Massal Dimulai'.
Dari isi kawat ini, dapat dibayangkan betapa para diplomat AS menganggap momen mudik ini adalah kesempatan emas untuk mempelajari sungguh-sungguh karakter rakyat Indonesia sampai tingkat akar rumput. Mereka berusaha memahami mudik Lebaran secara mendetil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada Washington, Kedubes AS Jakarta melaporkan sekitar 25 juta rakyat Indonesia memulai prosesi pulang ke kampung halaman dalam liburan Idul Fitri selama periode 2 mingguan. "Pulang ke kampung halaman ini disebut 'mudik'. Liburan ini dikenal sebagai Idul Fitri atau Lebaran dalam bahasa Indonesia," lapor mereka.
Kedubes AS takjub dengan sejumlah kejadian khas pulang kampung seperti tingginya jumlah kecelakaan, mimpi buruk perjalanan mudik seperti kemacetan, dan kehabisan sembako.
"Di Indonesia, bukan hal aneh keluarga berkendaraan motor dengan tiga orang atau lebih," kata mereka dengan heran.
Sejumlah peringatan khas mudik pun menarik perhatian mereka. 'Jangan bawa banyak barang', 'Jangan pakai perhiasan', 'Jangan percaya orang asing', 'Istirahat sebelum menyetir', sampai dengan 'Awas hipnosis'.
"Peringatan yang terakhir itu (hipnosis-red) sepertinya agak kabur," demikian pendapat mereka.
Bahkan urusan calo tiket pun menarik perhatian mereka. Kasus orang berebut naik kereta sampai cedera pun menjadi catatan mereka. Nah, soal uang angpau Lebaran juga mereka perhatikan.
"Tingkat kebutuhan terhadap uang pecahan Rp 2.000 sangat tinggi, ini untuk diberikan kepada anak-anak," jelas mereka.
(fay/rdf)











































