"Itu enggak ada artinya. Kenapa? Karena nonsense. Itu kan cuma political insting dari dubes Amerika Serikat yang akan berhenti," ujar pengamat politik LIPI, Ikrar Nusa Bhakti, di Gedung DPR, Jakarta (26/8/2011).
Ikrar tak percaya jika sejumlah menteri bersedia menjadi sekutu AS. Ia mempersilakan masyarakat untuk melihat program para menteri apakah condong pada kepentingan AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokumen bocoran WikiLeaks itu, kata Ikrar, hanya berisi harapan Dubes AS waktu itu, Cameron Hume, terhadap sejumlah menteri sehingga tak bisa dijadikan justifikasi bahwa harapan itu adalah sebuah kebenaran.
"Kecuali jika memang mereka dididik untuk dipersiapkan masuk kabinet demi kepentingan Amerika Serikat," pungkasnya.
Sebuah dokumen berkode referensi 09JAKARTA1773 yang dibuat pada 23 Oktober 2009, dibocorkan di situs WikiLeaks. Saat detikcom melongok situs resmi itu, Kamis (25/8/2011), judul dokumen itu cukup menarik perhatian, "Sekutu yang menjanjikan untuk kemitraan komprehensif dalam kabinet baru Indonesia."
Dubes AS saat itu, Cameron Hume mengirim pesan ke Washington soal susunan Kabinet Indonesia Bersatu II. Ada sejumlah menteri yang dinilai bisa menjadi sekutu yang potensial.
Di bidang ekonomi, ada Sri Mulyani Indrawati yang menjabat Menkeu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan Menteri Perindustrian MS Hidayat yang menurut Kedubes AS disambut baik para pebisnis. Menko Perekonomian Hatta Rajasa disebutkan sebagai sekutu kuat SBY walau dianggap tidak punya jejak rekam untuk reformasi ekonomi.
Pemilihan Dr Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menkes disambut gembira oleh AS. "Ini adalah pertanda baik," demikian tanggapan Kedubes AS. Endang diakui mereka dekat dengan USAID. Sementara Menteri LH Gusti M Hatta juga ditandai sebagai 'akademisi yang dihormati'.
Polhukam menjadi bidang yang sangat penting. Kedubes AS menyebutkan tokoh kunci yang harus dipegang adalah Menko Polhukam Djoko Suyanto yang rupanya alumni pelatihan di Nellis Air Force Base. Satu lagi adalah Menhan Purnomo Yusgiantoro. "..telah bekerja dengan kita dahulu untuk hal kontraterorisme, energi dan lainnya."
Menteri SBY yang paling penting di mata AS rupanya adalah Menlu Marty Natalegawa. Bahkan Kedubes AS Jakarta meminta Washington memberi perlakuan khusus.
(adi/irw)











































