Warga Grobogan ini ditemui di pinggir Jl Raya Mangkang, Semarang, Jumat (26/8/2011) siang. Bajaj-nya rusak, rem belakang blong. Untung ia masih bisa menguasai kendaraan roda tiganya itu sehingga bisa berhenti di tempat yang tepat, pinggir jalan.
Di sela-sela memperbaiki bajaj-nya, Badi (panggilan Subadi) mengatakan, bersama istri dan anaknya, mereka berangkat dari Jakarta, Kamis (25/8) sore. "Sekitar jam 5 dari rumah. Terus berhenti 4 kali, istirahat. Ini remnya bermasalah," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
selalu mudik tiap Lebaran. Tapi baru pertama mudik dengan bajaj.
"Hemat, Mas. Ini baru abis bensin Rp 75 ribu. Kalau naik bis, Rp 150 ribu per orang. Itu kalau dapat tiket, kalau nggak dapat bisa batal mudik," katanya.
Badi menambahkan, ia berani mudik dengan mengendarai bajaj, karena ada satu tetangga yang juga mudik dengan bajaj. Dari Jakarta, mereka berangkat bersama.
"Tapi tadi dia di depan. Mungkin nggak tahu kalau bajaj saya macet," ungkapnya.
Bajaj Badi lumayan menarik perhatian pengguna jalan di jalan yang berjarak sekitar 12 Km dari pusat Kota Semarang itu. Bagi mereka, mungkin terlihat lucu dan aneh mudik dengan bajaj. Tapi Badi tidak peduli. Dipikirannya semata-mata hanya menghemat biaya pulang ke kampung halaman!
(try/irw)











































