Wikileaks: AS Pantau Hatta & Ical untuk Pilpres 2014

Wikileaks: AS Pantau Hatta & Ical untuk Pilpres 2014

- detikNews
Kamis, 25 Agu 2011 12:14 WIB
Wikileaks: AS Pantau Hatta & Ical untuk Pilpres 2014
Jakarta - Pemilu 2014 masih 3 tahun lagi, namun rupanya pemerintah AS memantau betul siapa kira-kira yang akan menggantikan Presiden SBY. AS memperkirakan Ketum PAN Hatta Rajasa dan Ketum Partai Golkar Aburizal Bakrie akan maju dalam Pilpres 2014.

Hal ini diungkapkan situs whistleblower Wikileaks melalui situs resminya saat dikunjungi detikcom, Kamis (25/8/2011). Ada sebuah dokumen Kedubes AS Jakarta berkode 10JAKARTA68 yang dibuat tanggal 19 Januari 2010 silam, bertajuk 'Menatap Pemilu, Parpol di Indonesia Memilih Pemimpin Baru'.

Dalam laporan ke Washington, Kedubes AS memantau perkembangan parpol di Indonesia untuk kontestasi Pilpres 2014. Mereka memantau Ketum PAN dan Golkar, yang mereka anggap akan maju dalam Pilpres 2014.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebagaimana Indonesia menggelar Pilkada pada 2010, Rajasa dan Bakrie akan mulai memposisikan diri mereka sebagai kandidat Presiden 2014," demikian analisa mereka.

Kedubes AS akan memantau kongres-kongres partai politik besar di Indonesia. Karena di situlah akan muncul kandidat Pilpres 2014.

"Ini adalah tahun kunci untuk parpol dan kandidat untuk memposisikan diri mereka di Pilpres 2014, karena Indonesia menggelar Pilkada di seluruh negeri," lanjut laporan itu kepada Washington.

Lantas, parpol mana lagi yang dipantau AS? Rupanya mereka menunggu Kongres PDIP dan Partai Demokrat. Jadi, PDIP, Demokrat, Golkar dan PAN dianggap mereka paling potensial untuk beradu di Pilpres 2014.

"Partai oposisi besar PDIP dan partainya Presiden SBY, Partai Demokrat, akan memilih ketua partai baru pada kongres bulan April dan Mei," demikian laporan mereka.

Sebagaimana diketahui, dalam Kongres PD tahun lalu di Bandung, Anas Urbaningrum menjadi ketua yang baru. Sedangkan PDIP tetap dikuasai oleh Megawati Soekarnoputri. Namun dokumen berkode 10JAKARTA68 ini tidak menjelaskan soal Anas dan Mega terkait Pilpres 2014.

(fay/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads